Bisnis Ayam Geprek, Ini Prospek Keuntungannya

Bisnis ayam geprek menjadi primadona dalam beberapa tahun terakhir. Prospek pangsa pasar yang besar hingga bahan baku yang mudah didapatkan bisa jadi alasannya. Berikut ini prospek keuntungan bisnis ayam geprek
Ahmad Rifai
Ahmad Rifai - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  15:57 WIB
Bisnis Ayam Geprek, Ini Prospek Keuntungannya
Tips bisnis ayam geprek. - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA – Bisnis ayam geprek menjadi pilihan populer bagi pemula yang ingin menjajal wirausaha. Prospek permintaan yang tinggi dan proses bisnis yang tidak terlalu rumit jadi salah satu alasannya.

Agung Prasetyo Utomo, eks karyawan PT Toyota-Astra Motor menjadi salah satu contohnya. Selama 16 tahun menjadi karyawan, Agung memilih banting stir menjadi wirausaha.

Dia mengundurkan diri dari perusahaan sektor otomotif itu pada akhir 2016, lalu mulai membangun jaringan bisnis ayam geprek bermerek Juara di bawah payung Juara Group di Rawamangun, Jakarta Timur.

Sebenarnya, bisnis ayam geprek bukan hal baru bagi Agung. Dia sempat menjalankan bisnis ayam geprek sambel korek sejak 20 Mei 2013.

“Setelah resign, saya menemukan konsep bisnis jaringan yang dipelajari dari minimarket yang memiliki puluhan ribu gerai di berbagai tempat,” ujarnya dalam video yang diunggah akun Youtube Panglima Juara.

Bisnis jaringan Juara [Jaringan Usaha Amanah Ridho Allah] milik Agung ini dirilis pada 20 Mei 2017. Bisnis itu pun mengolaborasikan posisi investor dan pengelola bisnis. Posisi Juara pun berada di tengah antara investor dan pengelola bisnis tersebut.

Berbeda dengan Agung, Winsen Kristian memulai bisnis ayam geprek bermerek Gusto.Win pada Juli 2017. Sebelumnya, Winsen sempat menggeluti bisnis sate taichan.

bisnis ayam geprek

Winsen memutuskan pindah haluan dari taichan ke ayam geprek dengan alasan bisnis makanan pedas itu memiliki prospek jangka panjang. Meskipun begitu, untuk memulai bisnis ayam geprek pun harus memiliki mental yang kuat.

“Mental adalah modal utamanya. Setiap menjalankan bisnis, mental itu yang dibutuhkan, baru memikirkan nilai uang yang dibutuhkan untuk membangun bisnis,” ujar Winsen kepada Bisnis.com pada Sabtu (17/08/2019).

Winsen bercerita, dirinya merogoh kocek senilai Rp30 juta untuk memulai bisnis ayam geprek. Dana itu digunakan untuk membeli berbagai peralatan dan perlengkapan bisnisnya tersebut.

Nah, untuk lokasi, saya mengeluarkan biaya hingga Rp15 juta untuk setahun,” ujarnya.

Hanya dalam dua tahun, Winsen pun sudah menambah gerai ayam gepreknya menjadi empat gerai. Dia menjajal kantin Universitas Trisakti sebagai gerai kedua. Dari ekspansi itu, dia pun kian menggeliat dengan menambah Sepanjang 2 tahun menggeluti bisnis ayam geprek, Winsen sudah mempunyai 3 outlet. 

Tak hanya itu, Winsen pun berniat menjamah pulau lawan untuk gerai keempatnya. Belitung menjadi daerah yang dipilih untuk gerai keempat ayam geprek Gusto.Win

“Semua persiapan sudah diurus, tinggal menentukan waktu peluncurannya saja,” ujarnya.

Sayangnya, ekspansi yang dilakukan tidak sepenuhnya berhasil. Winsen pun berencana menutup gerai ketiga karena dinilai tidak memberikan cuan yang maksimal.

Di sisi lain, tantangan bisnis ayam geprek kian bertambah setelah munculnya beberapa kompetitor di daerah gerai pertamanya. Winsen mengakui, keberadaan kompetitor cukup ‘menggoyangkan’ margin keuntungannya.

bisnis ayam geprek

Namun, Winsen menilai itu adalah risiko bisnis yang bisa untung maupun rugi. “Kuncinya adalah selalu jeli dalam melihat peluang dalam menjemput cuan,” ujarnya.

Agung pun menilai, ada beberapa alasan dirinya memilih berbisnis kuliner. Menurutnya, makanan adalah kebutuhan pokok manusia dan ayam geprek adalah makanan yang disantap oleh semua kalangan alias pangsa pasarnya besar. 

Lalu, bagi pengusaha pemula untuk masuk ke bisnis kuliner juga tidak terlalu sulit atau entry barriernya cenderung kecil. Selain itu, margin keuntungan bisnis kuliner rata-rata berada di atas 10%.

Tips Bisnis Ayam Geprek

Perkembangan bisnis ayam geprek, sebagai salah satu kuliner idola masyarakat, bisa dibilang sangat cepat. Waralaba ayam geprek pun mulai bertebaran, tetapi tidak sedikit juga yang memilih buka usaha sendiri. Kira-kira lebih untung bisnis lewat waralaba atau bangun sendiri?

Ada kelebihan dan kekurangan memulai bisnis ayam geprek dengan waralaba atau memulai sendiri.

Beberapa kelebihan bisnis ayam geprek dengan skema waralaba antara lain, tidak perlu pusing mengurus pasokan bahan baku, ada pelatihan yang diberikan, model bisnis sudah tersedia, dan sudah memiliki merek yang dikenal sehingga lebih mudah promosi.

bisnis ayam geprek

 Namun, ada beberapa kekurangan bisnis ayam geprek via waralaba, yakni pengusaha harus patuh dengan syarat dan ketentuan yang sudah ditetapkan. Belum lagi, modal awal untuk membayar lisensi waralaba bisa dibilang cukup besar. Keuntungan yang diperoleh pun harus bagi hasil dengan pemilik lisensi waralaba tersebut

 Lalu, bagaimana jika mencoba bangun bisnis ayam geprek sendiri?

 Kelebihan menjalankan bisnis ayam geprek sendiri adalah lebih fleksibel menentukan modal awal. Pasalnya, pengusaha tidak perlu mengeluarkan biaya untuk lisensi waralaba. Apalagi, total keuntungan yang diraih bisa dinikmati sepenuhnya oleh pemilik usaha.

 Namun, ada beberapa tantangan jika memulai usaha bisnis ayam geprek sendiri. Pertama, biaya promosi bisa jadi lebih besar karena memulai bisnis dari nol. Kedua, harus mencari pemasok bahan baku yang paling murah untuk menjaga margin keuntungan

 Secara keseluruhan, ada tantangan besar dalam bisnis ayam geprek itu, yakni pergerakan harga ayam dan cabai yang fluktuatif. Jika usaha sendiri, berarti potensi kenaikan beban biaya bahan baku akibat volatilitas harga ayam dan cabai sangat besar.

 Jadi, kamu sudah siap untuk memulai bisnis ayam geprek?

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
waralaba, tips bisnis

Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top