Suplai Rumah Turun, Pengembang Bakal Genjot Pembangunan

Pada kuartal II/2019, indeks pasok properti residensial nasional turun 23 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 19 Agustus 2019  |  14:41 WIB
Suplai Rumah Turun, Pengembang Bakal Genjot Pembangunan
Foto aerial suasana perumahan yang berada di atas mal Thamrin City, Jakarta, Rabu (26/6/2019). Perumahan yang berada di atas mal Thamrin City ini terdiri dari lima blok yaitu A1-A19, B1-B12, C1-C19, D1-D16, E1-E15, dan F1-F9. - ANTARA/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA – Siklus properti kuartal II/2019 menunjukkan bahwa pertumbuhan suplai rumah mengalami perlambatan. Namun, untuk kuartal III/2019 dan selanjutnya, pengembang akan mengusahakan untuk memacu pembangunan.

Melansir laporan Rumah.com Property Index kuartal II/2019, dalam periode tersebut terlihat bahwa indeks pasok properti residensial nasional berada pada angka 122,4 atau turun sebesar 23 persen, dibandingkan dengan kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter/qoq).

Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan menerangkan penyebabnya adalah siklus properti di mana umunya penjualan dan pemasaran yang dilakukan pengembang tidak terlalu agresif.

“Namun, penurunan pada kuartal II/2019 itu ternyata lebih besar dari perkiraan karena rata-rata penurunan tingkat pasok itu hanya di kisaran 10-15 persen,” ungkapnya melalui laporan tertulis yang dikutip Bisnis, Senin (19/8/2019).

Penurunan pasokan tersebut dinilai bisa menjadi indikasi bahwa penjual menahan peluncuran properti baru dan fokus menjual suplai properti yang ada.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan kuartal yang sama pada tahun lalu, indeks suplai properti mengalami penurunan sebesar 14 persen secara year-on-year (yoy). Kemudian, secara provinsi, penurunan suplai properti terbesar di antaranya terjadi di Banten, yang mengalami penurunan sebesar 21 persen qoq; Jawa Timur terpangkas 25 persen qoq; dan Jawa Barat menyusut 26 persen qoq.

Senada, pengembang PT Jababeka Residence mengungkapkan bahwa adanya sejumlah gejolak politik dan perekonomian membuat banyak pengembang menahan peluncuran maupun penjualan produk propertinya. Namun, General Manager Corporate Marketing Jababeka Handoyo Lim menuturkan mulai Juni-Juli 2019, sudah ada kenaikan yang cukup signifikan dari segi penjualan sehingga adanya gejolak pada awal tahun tidak begitu besar pengaruhnya pada penjualan di Jababeka.

Menanggapi tingkat suplai yang turun pada kuartal II/2019, dia mengungkapkan pihaknya akan membuat lebih banyak rumah yang ditargetkan kepada end user dengan kisaran harga Rp700 juta – Rp800 juta serta menambah produk untuk investasi dengan yield sewa yang bagus dengan target psar pekerja profesional di Jababeka.

“Tahun ini, mencerminkan optimisme kami, rencananya juga akan meluncurkan produk baru, residensial, tapi belum bisa berikan detailnya,” ucap Handoyo.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
properti

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top