Jalan Terjal Menerangi Negeri

Ribuan kilometer jauhnya dari ibu kota negara, Kabupaten Sanggau di Borneo Barat berharap bisa mencicipi kelap-kelip cahaya lampu. Namun, untuk mewujudkannya bagai berjalan di tanah kering berbatu.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 16 Agustus 2019  |  14:10 WIB
Jalan Terjal Menerangi Negeri
Proyek Listrik Desa - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Ribuan kilometer jauhnya dari ibu kota negara, Kabupaten Sanggau di Borneo Barat berharap bisa mencicipi kelap-kelip cahaya lampu. Namun, untuk mewujudkannya bagai berjalan di tanah kering berbatu.

Setidaknya itu yang akan dirasakan setiap orang jika menyambangi Desa Mandong di Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat. Selama hampir 3 jam perjalanan dari Pontianak, Kalimantan Barat, badan harus rela terguncang dalam kendaraan karena jalanan yang tidak rata dan berbatu.

Pada mulanya, akses menuju desa tersebut melewati jalan beraspal. Akan tetapi, selang 2 jam kemudian, guncangan mulai terasa karena harus memasuki hutan sawit yang jalannya memang tidak beraspal dan jauh dari kesan nyaman untuk dilewati.

Bahkan, petunjuk jalan yang minim juga akan membuat setiap pendatang pasti kebingungan jika mengakses wilayah tersebut. Perjalanan terasa berat untuk memasuki desa kecil yang jauh dari temarang Kota Pontianak.

Namun, beribu hikmah karena perjalanan tersebut membawa satu misi, yakni mengantarkan terang ke Desa Mandong.

Tiga bulan lalu, masyarakat tumpah riuh ke sebuah sekolah yang menjadi tempat peresmian masuknya listrik ke desa tersebut. Ketika tiang listrik telah ditancapkan, masyarakat bersorak. Rasa sukacita memenuhi lokasi tersebut.

Cerita yang terjadi di Desa Mandong bukan satusatunya kisah suka cita masyarakat saat pertama kali menikmati listrik di Kalimantan Barat maupun Indonesia. Masih banyak desa-desa lain yang juga mengalami hal serupa, membutuhkan akses listrik yang memadai dan andal.

Berdasarkan data yang diterima Bisnis, Kalimantan Barat memiliki 2.130 desa, dengan rasio desa yang berlistrik PLN sebanyak 71,13% dari total jumlah desa tersebut, dan rasio desa berlistrik total hanya 79,30%. Adapun rasio elektrifikasi total PLN di Kalimantan Barat sebesar 88,04%.

Rasio elektrifikasi yang masih rendah ini membuat PLN terus mengebut proyekproyek kelistrikan. Dana Rp130 miliar digelontorkan untuk melakukan pembangunan infrastruktur kelistrikan di 60 desa yang ada di Kalimantan Barat pada 2019, agar mampu mengejar rasio elektrifikasi menjadi 90,04% di daerah itu.

General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Kalimantan Barat Agung Murdifi mengatakan untuk mengaliri listrik melalui penyambungan jaringan ke satu rumah saja, perusahaan setrum tersebut menghabiskan dana Rp10 juta.

Secara total, penambahan jaringan listrik di 60 desa nantinya dilakukan dengan menambah gardu distribusi sebesar 9.625 kilovolt ampere (kVa), dan transmisi sepanjang 359,10 kilometer sirkuit (kms) untuk tegangan menengah, serta 221 kms untuk tegangan rendah.

Dia meyakini, penambahan jaringan ini akan meningkatkan rasio elektrifikasi di Kalimantan Barat menjadi 90,04% dari kondisi tahun lalu yang sebesar 88,04%.

“Kalau target dari Kementerian 2022, mudahmudahan kita kita bisa lebih cepat 2 tahun, kalau bisa target 2023 kita majukan tahun depan,” katanya.

Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Kalimantan Barat saja. Sulitnya menerangi setiap sudut Kalimantan Barat hanyalah sebagian potret perjuangan perusahaan setrum pelat merah tersebut untuk menghadirkan terang hingga ke pelosok negeri.

Namun, dengan segala upaya yang dilakukan PLN, rasio elektrifikasi terus mengalami peningkatan. Tercatat hingga kuartal I/2019, rasio elektrifikasi nasional telah mencapai 98,5% meningkat dari 2018 yang sebesar 98,3% dan 2017 95,35%.

Bahkan, PLN juga mengadakan penggalangan dana di dalam tubuh perseroan melalui gerakan one man one hope untuk merealisasikan target elektrifikasi 99% pada 2019.

Executive Vice President Corporate Communication and CSR PLN I Made Suprateka mengatakan hingga 2018 realisasi elektrifikasi di Indonesia adalah sebesar 98,3%. Sejumlah daerah yang terisolasi untuk diakses diakuinya menjadi tantangan tersendiri dalam upaya peningkatan rasio elektrifikasi.

Dia mengatakan gerakan one man one hope berupa penggalangan dana dari pegawai PLN akan menjadi salah satu langkah untuk mendorong realisasi elektrifikasi tersebut.

Dalam program tersebut, masing-masing pegawai memberikan sumbangan secara sukarela dan dikumpulkan dalam satu rekening yang nantinya digunakan untuk mewujudkan infrastruktur kelistrikan di Indonesia.

“Setelah 70 tahun lebih Indonesia merdeka, ada daerah yang belum menikmati penerangan PLN, semoga gerakan yang diinisiasi pegawai PLN ini akan menjadi suatu role model bagi masyarakat Indonesia,” katanya.

Perjuangan PLN memang masih panjang. Namun, setiap langkah yang diambil kian mendekatkan kita pada terwujudnya harapan Indonesia terang hingga ke seluruh pelosok negeri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
HUT Kemerdekaan RI

Editor : MediaDigital

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top