Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Indonesia Bawa Persoalan Biodiesel ke WTO

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, pemerintah Indonesia telah mengirimkan nota keberatan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait Uni Eropa yang menerapkan bea masuk anti subsidi (BMAS) sebesar 8-18 persen untuk produk minyak diesel (biodiesel) asal Indonesia.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 16 Agustus 2019  |  15:40 WIB
Menteri Perdagangan Enggar Tiasto Lukita. - Bisnis / Alif Nazzala Rizqi
Menteri Perdagangan Enggar Tiasto Lukita. - Bisnis / Alif Nazzala Rizqi

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, pemerintah Indonesia telah mengirimkan nota keberatan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait Uni Eropa yang menerapkan bea masuk anti subsidi (BMAS) sebesar 8-18 persen untuk produk minyak diesel (biodiesel) asal Indonesia.

"Kami sudah menyampaikan nota keberatan. Kirim surat paling lambat hari ini," kata Enggartiasto Lukita usai Sidang Tahunan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Gedung DPR RI, Jumat (16/8/2019).

Adapun mengenai poin-poin yang tertuang dalam nota keberatan yang dilayangkan kepada WTO tersebut, Enggartiasto enggan membeberkan lebih rinci.

"Ada batas waktu 15 hari untuk menyampaikan nota keberatan dan kami sudah sampaikan ke sana, dari pengusaha juga," ujarnya.

Sebelumnya, tarif bea masuk biodiesel asal Indonesia itu berlaku efektif sejak 14 Agustus 2019, dan akan berlangsung selama empat bulan ke depan. Komisi Eropa juga membuka peluang untuk memperpanjang kebijakan hingga 5 tahun.

Lebih lanjut Enggartiasto menegaskan pemerintah Indonesia akan menerapkan kebijakan serupa dengan memberlakukan tarif sebesar 20-25 persen terhadap produk susu dari Uni Eropa. Namun kebijakan itu baru sebatas usulan yang memerlukan penelitian lebih lanjut.

"Jadi yang pertama itu harus ada penelitian dulu dari anti damping tadi, karena mreka pakai anti dumping, kita juga mempergunakan measure itu yang sama," tegasnya.

Enggartiasto menyarankan agar para importir mencari negara pemasok alternatif, selain Uni Eropa.

"Saya sudah meminta para importir dari dairy product Uni Eropa untuk mengambil dari pemasok lain, seperti Amerika Serikat, India, Australia, atau New Zealand. Kalau perlu kita fasilitasi bisnis matching-nya," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

menteri perdagangan Biodiesel Sidang Tahunan MPR

Sumber : Antara

Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top