Siapkan Bahan Baku Plywood, PT WSL dan PT MTI Mulai Tanam Meranti

PT Wana Subur Lestari (WSL) dan PT Mayangkara Tanaman Industri (MTI), dua perusahaan pemegang konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) yang beroperasi di Kalimantan Barat, mulai menanam jenis tanaman lokal seperti Meranti di areal kerjanya. 
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  09:51 WIB
Siapkan Bahan Baku Plywood, PT WSL dan PT MTI Mulai Tanam Meranti
Multiplek alias plywood dibuat dari kulit kayu yang berlapis-lapis dan kemudian dipress menggunakan tekanan yang sangat tinggi. Multiplek mempunyai tekstur rapat, kekuatan tinggi, dan tahan air. - foto: perthtimberco.com

Bisnis.com, JAKARTA — PT Wana Subur Lestari (WSL) dan PT Mayangkara Tanaman Industri (MTI), dua perusahaan pemegang konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) yang beroperasi di Kalimantan Barat, mulai menanam jenis tanaman lokal seperti Meranti di areal kerjanya. 

Vice President Director PT WSL dan PT MTI Tsuyoshi Kato mengatakan pengembangan kayu meranti itu dilakukan agar perusahaan dapat memasok bahan baku untuk industri panel atau plywood

“Selama ini kan pasokan bahan baku kayu lapis [plywood] masih banyak dipasok dari pemegang konsesi hutan alam, tapi dalam jangka panjang [kami optimistis] pasokan meranti ini juga bisa dari pemegang konsesi HTI,” kata Kato, Senin (12/8/2019). 

Adapun, Kato menuturkan, selama ini kedua perusahaan yang merupakan kongsi dari dari Alas Kusuma Grup dan Sumitomo Forestry tersebut telah mengembangkan jenis kayu acacia crasicarpa untuk memenuhi kebutuhan pasokan bahan baku industri pulp dan kertas. 

Dia melanjutkan, dari seluruh areal kerjanya seluas 115.620 hektare (ha) yang terbagi atas areal kerja PT WSL seluas 40.750 hektare (ha) dan PT MTI seluas 74.870 ha. Areal yang sudah terbangun menjadi HTI baru sekitar 22.000 ha. 

Adapun, 20 persen dari total areal kerja yang belum tertanami kayu HTI dialokasikan untuk untuk tujuan konservasi guna menjaga pasokan air gambut. Dari luasan pengembangan HTI tersebut, produksi kayu log atau bulat yang dihasilkan pada 2018 sekitar 300.000 ton. 

Dia mengklaim produksi tersebut nilainya masih menguntungkan secara bisnis. Adapun, Kato memproyeksikan, produksi kayu bulat mereka pada tahun ini akan sama dengan hasil produksi tahun lalu karena areal tanamnya belum diperluas. 

Sementara itu, kedua korporasi itu juga bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mengembangkan proyek perdana pengelolaan lahan gambut pada skala bentang alam di Kalimantan Barat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kehutanan, kayu

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top