PDB Terkontraksi, Singapura Pangkas Outlook Tahun 2019

Pemerintah Singapura memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi hampir nol di tengah meningkatnya perang perdagangan dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  08:26 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Singapura memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi hampir nol di tengah meningkatnya perang perdagangan dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Dilansir Bloomberg, Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 0,0 persen  hingga 1,0 persen hingga akhir tahun 2019, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 1,5 persen – 2,5 persen, dalam sebuah pernyataan hari Selasa (13/8/2019), dengan pertumbuhan diperkirakan akan mendekati titik tengah dari kisaran tersebut.

Revisi ini diumumkan bersamaan dengan rilis angka produk domestik bruto (PDB) kuartal II/2019 yang mencatat kontraksi 3,3 persen dibandingkan dengan kuartal pertama tahun ini, sedikit lebih baik dari perkiraan kontraksi 3,4 persen.

Dibandingkan dengan kuartal II/2018, PDB tumbuh 0,1 persen year-on-year (yoy), tidak berubah dari perkiraan pemerintah sebelumnya. Perkiraan median dalam survei ekonom Bloomberg mencatat kontraksi 3,0 persen dibanding kuartal sebelumnya dan tumbuh 0,2 persen yoy.

"Terhadap latar belakang makroekonomi eksternal yang menantang ini, dan penurunan dalam siklus elektronik global, ekonomi Singapura kemungkinan akan terus menghadapi tekanan sepanjang sisa tahun ini," ungkap kementerian itu dalam sebuah pernyataan, Selasa (13/8), seperti dikutip Bloomberg.

Outlook Memudar

Prospek Singapura telah menjadi sangat suram dalam beberapa bulan terakhir karena perang perdagangan AS dan China. Keduanya merupakan mitra dagang terbesar Singapura.

Otoritas Moneter Singapura (MAS) mengatakan kebijakan moneter tetap tidak berubah dan tidak mempertimbangkan mengadakan pertemuan kebijakan off-cycle, ungkap Edward Robinson, wakil direktur pelaksana MAS untuk kebijakan ekonomi.

Perdana Menteri Lee Hsien Loong mengatakan dalam pidato Hari Nasional pekan lalu bahwa Singapura merasakan dampak perang dagang, dan pemerintah bersedia untuk merangsang ekonomi jika diperlukan.

Sementara itu, ekspor Singapura jatuh pada bulan Juni ke tingkat terburuk kedua sejak krisis keuangan global satu dekade lalu.

Data lain dari Enterprise Singapore menunjukkan ekspor domestik non-minyak menyusut 14,6 persen pada kuartal kedua dari periode sama tahun sebelumnya karena pengiriman produk elektronik dan non-elektronik menurun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi singapura

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top