Arus Penumpang Anjlok 21 Persen, AP II Banting Setir Andalkan Bisnis Nonaero

Direktur Teknik dan Operasi Angkasa Pura II Djoko Murjatmodjo mengatakan, jumlah penumpang di bandara yang dikelola mengalami penurunan hingga 21 persen pada Semester I/2019 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  18:35 WIB
Arus Penumpang Anjlok 21 Persen, AP II Banting Setir Andalkan Bisnis Nonaero
Menhub Budi Karya Sumadi (kanan) memperhatikan penjelasan Direktur Teknik & Operasi PT Angkasa Pura II Djoko Murjatmodjo (kedua dari kiri) tentang perkembangan runway ketiga Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (21/7 - 2019). (Rio Sandy Pradana)

Bisnis.com, JAKARTA--PT Angkasa Pura II (Persero) semakin mantap dalam mengembangkan bisnis nonaeronautika karena tidak ingin mengandalkan pendapatan usaha hanya dari pergerakan penumpang dan pesawat.

Direktur Teknik dan Operasi Angkasa Pura (AP) II Djoko Murjatmodjo mengatakan bahwa jumlah penumpang di bandara yang dikelola perseroan mengalami penurunan hingga 21 persen pada Semester I/2019 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Adapun, pergerakan penumpang pada periode Januari-Mei 2018 tercatat sebanyak 45,2 juta penumpang dengan 353.250 pergerakan pesawat.

"Masalahnya selama ini market utama operator bandara adalah penumpang, kalau sepi mau dapat uang dari mana. Namun, manajemen dalam 5 tahun terakhir ini sudah mengambil kebijakan, tidak bisa andalkan revenue dari pergerakan penumpang dan pesawat," katanya, Senin (12/8/2019).

Dia  menjelaskan struktur pendapatan perseroan terdiri atas core business dan adjacent business. Keduanya dibagi menjadi organik dengan pertumbuhan normal dan inorganik yang bisa diakselerasi.

Core business merupakan lini usaha yang sudah dijalankan selama puluhan tahun yang terdiri atas pendapatan aeronautika, nonaeronautika, dan bisnis kargo. Bisnis nonaeronautika pada core business ini lebih pada usaha konvensional, seperti penyewaan gerai untuk ritel.

Di sisi lain, adjacent business secara organik tidak dibatasi regulasi. AP II diketahui sedang mengerjakan Airport Digital Business Project List yang terdiri atas airport e-commerce, airport community, airport e-payment, dan airport e-advertising.

Pada 2018, optimalisasi platform digital ini mampu menghasilkan pendapatan sebesar Rp3,05 miliar. Adapun, kontribusi terbesar disumbangkan oleh portofolio airport e-payment sebesar Rp1,79 miliar.

Realisasi total pendapatan usaha dari laporan keuangan 2018 mencapai Rp9,48 triliun. Dari nominal tersebut, komposisi pendapatan non-aeronautika hanya 36,6% atau Rp3,47 triliun, sehingga sebagian besar masih bertumpu pada pendapatan aeronautika yang mencapai Rp6 triliun.

Urutan prediksi kontribusi pendapatan non-aeronautika secara berurutan tahun lalu mencakup konsesi, sewa ruangan, pelayanan kargo, pemasangan reklame, parkir kendaraan, dan utilitas. Urutan kontribusi tersebut akan berbeda-beda setiap tahun.

Optimalisasi pendapatan non-aeronautika tersebut, lanjutnya, akan didukung oleh lima anak usaha yang dimiliki AP II. Kelima anak usaha tersebut, yakni Angkasa Pura Kargo, Angkasa Pura Solusi, Angkasa Pura Properti, serta Angkasa Pura Aviasi dan Angkasa Pura Integral.

Dia optimistis kondisi penurunan jumlah penumpang seperti yang dialami pada paruh pertama 2019 tidak akan berlanjut. Pada Semester II/2019 pertumbuhan bisa meningkat seiring dengan penambahan kapasitas yang terus dilakukan oleh perseroan.

"Investasi tetap kami lakukan yang bersifat penambahan kapasitas terminal penumpang, seperti di Pekanbaru [Bandara Sultan Syarif Kasim II], Jambi [Bandara Sultan Thaha], dan revitalisasi Terminal 1 dan 2 Bandara Soekarno-Hatta," ujarnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
angkasa pura ii, bandara soekarno-hatta

Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top