Inflasi Pekan Kedua Agustus Terjaga

Bank Indonesia menyebut pada minggu pertama Agustus 2019 inflasi 0,12% (m-t-m) dan diyakini terjaga sampai pekan kedua.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 11 Agustus 2019  |  10:57 WIB
Inflasi Pekan Kedua Agustus Terjaga
Kebutuhan pokok di pasar tradisional. - Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Indonesia menyebut pada minggu pertama Agustus 2019 inflasi 0,12% (m-t-m) dan diyakini terjaga sampai pekan kedua.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan bahwa sampai pekan ini diperkirakan terjadi inflasi 0,12% (m-t-m) berdasarkan pemantauan Survei Pemantauan Harga (SPH) dari BI.

"Ini pemantauan survei harga dari BI sampai minggu pertama Agustus 0,12 (m-t-m) dan secara (y-o-y) sebesar 3,44%," terang Perry di Kompleks Bank Indonesia, Jumat (9/8/2019).Dia menjelaskan, bahwa komoditas penyumbang inflasi masih berasal dari cabai merah sebesar 0,09%. Disusul dengan cabai rawit sebesar 0,05%, lalu emas dan perhiasan sebesar 0,04%, dan air minum 0,01%.

Sementara untuk komoditas yang mengalami deflasi tercatat angkatan udara sebesa 0,08%, disusul bawang merah sebesar 0,04%, dan tomat sayur sebesar 0,04%.

"Ini masih sesuai dengan apa yang dilakukan perkiraan BI bahwa inflasi tetap rendah dan stabil dan akhir tahun perkiraan kami masih di bawah titik tengah sasaran 3,5%," jelas Perry.

Sementara itu, Wakil Direktur Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menyatakan pemerintah perlu mewaspadai barang bergejolak, utamanya bahan makanan.

"Kalau diperhatikam inflasi umum sedikit mengalami kenaikan. Januari-Juni itu 1,9. Inflasi inti juga demikian. Problem adalah inflasi barang bergejolak dan harga pangan," tuturnya.

Dia pun mengingatkan pentingnya pemerintah mengendalikan laju inflasi di pedesaan. Eko menyatakan bahwa inflasi bahan pangan di desa sudah di atas 3,5% yakni sekitar 4,61%. Meski demikian secara (y-o-y) angka inflasi 2,98% di pedesaan.

"Jadi bahan pangan bukan ekonomi di kota dan di desa menghadapi problem yang sama. Padahal orang desa selain jadi produsen juga konsumen terhadap bahan pangan itu," tegasnya.

Eko pun mengingatkan pemerintah harus serius mengantisipasi kemarau panjang. Sehingga tidak menaikkan angka inflasi di pedesaan.

Selain itu pemerintah perlu menjamin agar kenaikan inflasi tidak menggerus pendapatan masyarakat. Hal ini mengingat rata-rata upah nominal adalah upah buruh tani dan buruh bangunan.

"Secara nominal upah buruh tani naik, buruh bangunan seolah naik namun termakan oleh inflasi. Walaupun nominal naik namun secara riil inflasi ternyata turun," paparnya.

Secara umum Eko optimistis bahwa inflasi ambang batas 3,5% bisa tercapai tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top