Jika Terealisasi, Kebijakan Pengapalan Sapi Hidup Bakal Rugikan Australia

Wacana pengurangan jumlah sapi hidup yang diekspor dalam sekali pengapalan yang bergulir di Australia dinilai bisa menjadi bumerang bagi negara tersebut jika benar-benar terealisasi. 
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 09 Agustus 2019  |  10:11 WIB
Jika Terealisasi, Kebijakan Pengapalan Sapi Hidup Bakal Rugikan Australia
Pedagang daging sapi segar melayani konsumen, di Pasar Modern, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (2/6/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA Wacana pengurangan jumlah sapi hidup yang diekspor dalam sekali pengapalan yang bergulir di Australia dinilai bisa menjadi bumerang bagi negara tersebut jika benar-benar terealisasi. 

Selain bisa mempengaruhi volume ekspor sapi bakalan ke Indonesia, rencana tersebut bisa memaksa Australia bertarung di pasar daging sapi Tanah Air yang telah diisi dengan daging asal Selandia Baru, Amerika Serikat, Kanada, dan India.

"Jika Australia memilih ekspor daging dan mengurangi ekspor sapi hidup [sebagai dampak kebijakan pengapalan], ia harus siap bertarung di pasar terbuka karena Indonesia mengimpor daging dari berbagai negara," ujar Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Pengolahan Makanan dan Industri Peternakan Juan Permata Adoe kala dihubungi Bisnis, Kamis (8/8/2019).

Jika dibandingkan dengan pangsa pasar daging sapi, Juan menjelaskan bahwa Australia memiliki keunggulan mutlak di pasar sapi bakalan. Negara tersebut nyaris tanpa pesaing karena memasok hampir seluruh sapi bagi industri penggemukan (feedlot) di Indonesia.

Data Departemen Pertanian dan Sumber Daya Air (DAWR) Australia membenarkan paparan Juan. Dari total ekspor sapi hidup Australia secara global yang mencapai 1,1 juta ekor pada 2017-2018, 50 persen di antaranya diekspor ke Indonesia dengan nilai AU$573,91 juta. Nilai tersebut jauh lebih besar dibanding nilai ekspor daging sapi Australia yang berada di angka AU$325,70 juta dengan pangsa pasar sekitar 52 persen.

"Australia merupakan satu-satunya yang melakukan ekspor sapi bakalan hidup ke Indonesia. Justru lebih menguntungkan bagi Australia kalau mereka mempertahankan ekspor livestock karena tidak ada pesaing," sambungnya.

Di sisi lain, Juan menuturkan impor sapi bakalan juga membawa keuntungan tersendiri bagi Indonesia. Selain memiliki potensi nilai tambah, industri penggemukan sapi bakalan juga berkontribusi bagi terciptanya lapangan kerja di dalam negeri. 

Sebagaimana keterangan Direktur Eksekutif Gapuspindo yang mengatakan bahwa kebijakan pengurangan densitas sapi ekspor dalam pengapalan, Juan menjelaskan bahwa hal tersebut belum diterapkan. Dari segi perdagangan, ia pun menjelaskan bahwa Indonesia telah menerapkan praktik-praktik kesejahteraan hewan (animal welfare) sehingga kasus seperti kematian pada pengiriman domba dari Australia ke Timur Tengah bisa dihindari.

"Kalau soal prinsip tersebut [animal welfare], Indonesia adalah salah satu negara yang sudah menandatangani pakta animal welfare dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Wacana pengurangan densitas itu juga muncul untuk mengurangi risiko kejadian ekspor domba ke Timur Tengah," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sapi, australia

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top