Pengembangan Blok Sakakemang, SKK Migas Berikan Opsi kepada Repsol

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memberikan opsi kepada Repsol untuk mengajukan rencana pengembangan (plan of development/POD) Blok Sakakemang selama masa eksplorasi atau setelah kepastian cadangan migas ditemukan.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 06 Agustus 2019  |  09:22 WIB
Pengembangan Blok Sakakemang, SKK Migas Berikan Opsi kepada Repsol
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto (ketiga kanan) didampingi jajaran pejabat SKK Migas menyampaikan keterangan pers capaian kinerja hulu migas 2018 dan target 2019 di Jakarta, Rabu (16/1/2019). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA — Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memberikan opsi kepada Repsol untuk mengajukan rencana pengembangan (plan of development/POD) Blok Sakakemang selama masa eksplorasi atau setelah kepastian cadangan migas ditemukan.

Deputi Perencanaan SKK Migas Jafee Suadin mengatakan Repsol perlu melakukan eksplorasi hingga satu tahun ke depan dengan pengeboran satu sumur. Februari lalu, Repsol mendapatkan temuan sekurang-kurangnya 2 TFC dari sumber daya yang dapat diproduksikan.

“Kan eksplorasi masih satu sumur lagi tahun ini. [Soal POD] Mereka punya opsi bisa menunggu itu [pengeboran satu sumur] atau bisa langsung masukan POD,” tuturnya Senin (5/8/2019).

Menurutnya, kemungkinan percepatan POD Blok Sakakemang dimungkinkan dengan mempertimbangkan adanya infrastruktur yang tersedia. Apalagi, lanjut Jafee, percepatan POD tidak perlu menunggu adanya temuan tambahan.

“Jadi, memang kita sedang berupaya mempercepat POD, bahkan bila perlu tidak perlu cadangan super besar. Kenapa? Karena lebih baik produksi sekarang daripada nanti,” tambahnya.

Repsol diuntungkan dengan keberadaan jaringan pipa gas di Sumatra Selatan, terutama untuk ukuran 30 inci, 32 inci, dan seterusnya. Selain itu, dengan jarak yang relatif tidak jauh, memungkinkan produksi migas Sakakemang cepat dilakukan.

Adapun jarak sumur yang dibor dengan discovery yang tidak terlalu jauh juga menjadi faktor proses produksi dapat lebih cepat. Tidak hanya itu, proses pemisahan karbon dioksida dengan migas tidak terlalu sulit dan pembangunan fasilitas memakan waktu sekitar 3 tahun.

Faktor-faktor tersebut menjadi pertimbangan mengapa penemuan gas di Sakakemang dapat ditindaklanjuti dalam 3 tahun mendatang. Selain terkait pembangunan fasilitas pendukung, aspek pembeli gas juga telah dikalkulasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
migas, skk migas

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top