IC-CEPA: Ini Tantangan Indonesia Menggenjot Ekspor ke Cile

Kalangan pengusaha Indonesia memetakan beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam memanfaatkan pakta Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA), yang bakal mulai diimplementasikan 10 Agustus 2019.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 06 Agustus 2019  |  13:59 WIB
IC-CEPA: Ini Tantangan Indonesia Menggenjot Ekspor ke Cile
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Kalangan pengusaha Indonesia memetakan beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam memanfaatkan pakta Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA), yang bakal mulai diimplementasikan 10 Agustus 2019.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani  mengatakan, pengusaha dihadapkan pada tantangan geografis untuk dapat mengekspor ke Cile.

“Untuk melakukan ekspor ke Chile memiliki tantangan tersendiri yakni faktor geografis yang sangat jauh dan minimnya informasi [tentang karakter pasar Cile] menjadi kendala utama. Untuk itu dibutuhkan sosialisasi penggunaan IC-CEPA ke pelaku usaha dengan maksimal,” katanya kepada Bisnis.com, Senin (5/8/2019).  

Selain itu, lanjutnya, pemerintah perlu memberikan market brief atau market intelligence kepada pelaku usaha agar tertarik mencoba peluang di pasar Cile dan Amerika Latin secara keseluruhan. 

Lebih lanjut, dia menjelaskan, Cile sebenarnya merupakan pangsa pasar yang potensial untuk produk otomotif, turunan minyak kelapa sawit, elektronik, dan alas kaki buatan Indonesia. Pasalnya, Cile tidak memiliki basis industri manufaktur.

Untuk sektor perikanan dan pertanian, lanjutnya, ekspor ke Chile cukup sulit karena  negara tersebut sudah memiliki produk pertanian dan perikanan yang cukup unggul di dunia sehingga yang akan kompetitif hanya produk pertanian-perikanan yang khas negara tropis saja. 

"Selain itu sektor perikanan pertanian punya tantangan kendala jaraknya yang terlalu jauh sehingga biaya konsinyasi dan pengawetan akan tinggi. Untuk sektor food and beverage jadi punya peluang tinggi untuk bisa sukses ekspor ke pasar Chile," tuturnya.

Sementara itu,  Ketua Komite Tetap Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Handito Joewono mengatakan Cile dan Amerika Selatan pada umumnya punya potensi kerja sama dengan Indonesia untuk penyediaan bahan baku dan pemasaran produk garmen dan tekstil. 

Saat ini yang perlu dilakukan dengan membangun kerjasama investasi dan perdagangan internasional sehingga bisa lahir perusahaan kerja sama antara pengusaha Cile dan Indonesia di produk produk yang kedua pihak punya keunggulan komparatif. 

"Cile dan Indonesia sudah berbisnis relatif lama tetapi hanya mengikutsertakan beberapa pengusaha tertentu sehingga perlu diajak lebih banyak lagi pengusaha Cile dan Indonesia," ucapnya.

Di sisi lain, Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan Ni Made Ayu Marthini mengimbau pelaku usaha untuk memanfaatkan perjanjian kerja sama dagang IC-CEPA.

Saat ini, Kemendag terus menerus melakukan sosialisasi kepada para pelaku usaha agar didorong melakukan ekspor ke Cile. 

"Sosialisasi menjadi kunci, selama ini terus kami sosialisasikan. Dari kami, kementerian perdagangan, tentu saja ada pusat informasi peningkatan ekspor dan pemanfaatan CEPA  di beberapa kota yang bertugas memberikan bimbingan tata cara untuk memanfaatkan preferensi. Kami punya 5 pusat informasi, Jakarta, Bandung, Makassar, Medan dan Surabaya," terangnya. 

Selain itu, otoritas perdagangan meminta kepada kementerian/lembaga terutama sektor industri khususnya untuk menginfo kepada para pelaku untuk mengeskpor dan memanfaatkan pakta dagang yang ada. 

"Saya rasa mereka sudah memiliki plan untuk ekspor ke depannya," kata Made.

Dia mengungkapkan tantangan dalam melakukan ekspor ke Cile dan menjadikan Cile menjadi hub ekspor ke wilayah Amerika Selatan yakni terkait persepsi bahwa Cile itu jauh sehingga mahal. 

Lalu, pasar Cile yang dilihat dari jumlah penduduknya yang kecil hanya 20 juta. Adanya kombinasi itu mengakibatkan Indonesia tak aktif untuk berpromosi dan penetrasi di Cile sehingga Pemerintah berupaya dengan membuat perjanjian dagang dengan negara Cile. 

"Semua pasar itu berpotensi. Pemerintah telah membuka jalan lewat perjanjian dagang, tarifnya sudah turun sehingga seharusnya menarik bagi swasta, apalagi bisa jadi hub di sana. Semoga ada perjanjian ini, persepsi bisa berubah dan benar-benar dimanfaatkan terutama untuk produk industri karena negara mereka kecil, industrinya enggak banyak," terang Made. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor nonmigas

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top