Marak Pelecehan Seksual, Masyarakat Pilih Transportasi Online Ketimbang Angkutan Umum

Founder perEMPUan Rika Rosvianti (Neqy) mengungkapkan hasil surveinya yang diikuti oleh lebih dari 62.000 orang, dan menemukan fakta menarik yang membantah mitos-mitos yang beredar terkait dengan pelecehan seksual.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  21:49 WIB
Marak Pelecehan Seksual, Masyarakat Pilih Transportasi Online Ketimbang Angkutan Umum
Armada bus Transjakarta melintasi halte Harmoni Central Busway di Jakarta, Kamis (21/6/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Maraknya pelecehan dan kekerasan seksual disebut menjadi penyebab masyarakat lebih memilih transportasi online ketimbang transportasi massal yang disediakan pemerintah.

Founder perEMPUan Rika Rosvianti (Neqy) mengungkapkan hasil surveinya yang diikuti oleh lebih dari 62.000 orang, dan menemukan fakta menarik yang membantah mitos-mitos yang beredar terkait dengan pelecehan seksual.

Menurut hasil survei, mayoritas korban pelecehan tidak mengenakan baju terbuka saat mengalami pelecehan seksual melainkan memakai celana/rok panjang (18 persen), hijab (17 persen), dan baju lengan panjang (16 persen).

Hasil survei juga menunjukkan bahwa waktu korban mengalami pelecehan mayoritas terjadi pada siang hari (35 persen) dan sore hari (25 persen), berbeda dari mitos yang banyak dipercaya orang bahwa pelecehan seksual terjadi karena korban berada di luar rumah pada malam hari.

Dia menyebut pelecehan dan kekerasan seksual lebih sering terjadi di transportasi massal, sehingga membuat lebih banyak perempuan menggunakan transportasi online yang dinilai lebih terawasi.

“Mereka pindah transportasi online karena bisa langsung report [melaporkan ke aplikator], ada banyak orang di yang massal jadi sulit terdeteksi, yang angkutan kota, metromini tidak terdeteksi lagi,” ujarnya, Selasa (30/7/2019).

Menurutnya, kejadian pelecehan di transportasi umum massallebih sering terjadi karena tempat yang sempit. Secara berurut pelecehan paling banyak terjadi di bus, KRL, lalu taksi dan ojek online.

Dia menjelaskan para aplikator sangat memperdulikan mengenai branding di masyarakat, sehingga responnya lebih cepat dibandingkan dengan transportasi massal dalam merespon laporan kekerasan atau pelecehan.

Berbeda dengan mitos, survei ini juga membuktikan bahwa pelecehan seksual tidak selalu dialami oleh perempuan, namun juga laki-laki. Karena itu isu mengenai pelecehan seksual di ruang publik ini tidak hanya menjadi kepedulian perempuan, tapi juga laki-laki.

Apalagi untuk orang-orang yang telah memiliki anak, karena hasil survei ini menunjukkan bahwa satu dari dua korban mengalami pelecehan seksual saat masih di bawah umur. Mayoritas korban mengaku mengalami pelecehan secara verbal seperti komentar atas tubuh (60 persen), fisik seperti disentuh (24 persen) dan visual seperti main mata (15 persen).

Selain itu, salah satu temuan penting dari survei ini adalah reaksi para saksi (bystander) saat terjadi pelecehan seksual di ruang publik. Korban mengaku banyak saksi yang mengabaikan (40 persen) dan bahkan menyalahkan korban (8 persen) ketika pelecehan terjadi.

Namun banyak pula yang membela korban (22 persen) dan berusaha menenangkan korban (15 persen) setelah kejadian. Sebanyak 92 persen korban pun mengaku merasa terbantu setelah dibela.

“Pelecehan seksual ini murni terjadi 100 persen karena niat pelaku. Tidak ada korban yang “mengundang” untuk dilecehkan. Tidak seharusnya korban yang mengalami pelecehan seksual ini disalahkan karena kejahatan yang dilakukan orang lain,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
transportasi massal, transportasi publik, transportasi online

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top