Pertamina Siapkan Posko Kesehatan di 4 Desa Terdampak Tumpahan Minyak

Pertamina bergerak cepat mendirikan 4 (empat) posko medis untuk mengantisipasi munculnya gangguan kesehatan masyarakat atas peristiwa tumpahan minyak atau oil spill di sekitar Anjungan Lepas Pantai YY Area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (ONWJ), Kawarang, Jawa Barat.
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 27 Juli 2019  |  14:15 WIB
Pertamina Siapkan Posko Kesehatan di 4 Desa Terdampak Tumpahan Minyak
Direktur Utama PT Pertamina Elia Massa Manik (kiri) didampingi manajemen PT Pertamina Hulu Energi melakukan kunjungan kerja di Anjungan Bravo, lepas pantai Blok Offshore North West Java yang dioperasikan PHE ONWJ, Jawa Barat, Jumat (9/5). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Pertamina bergerak cepat mendirikan 4 (empat) posko medis untuk mengantisipasi munculnya gangguan kesehatan masyarakat atas peristiwa tumpahan minyak atau oil spill di sekitar Anjungan Lepas Pantai YY Area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (ONWJ), Kawarang, Jawa Barat.

Sejak Rabu (24/7/2019), Pertamina melalui anak usaha PT Pertamedika langsung menurunkan peralatan dan tenaga medis untuk melayani kebutuhan pengobatan masyarakat di sekitar desa terdampak.

VP Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman mengatakan saat ini, Pertamina telah mendirikan empat posko kesehatan di Karawang yakni Posko Cemara Jaya, Posko Sungai Buntu, Posko Sedari, dan Posko Pantai Mutiara.

"Jumlah pasien rata-rata yang ditangani empat posko, mencapai 120 orang," ujarnya melalui keterangan resminya  Sabtu (27/7/2019).

Menurut Fajriyah, keluhan pasien antara lain gatal-gatal, pegal-pegal, batuk, dan penyakit lain seperti hipertensi.

"Berdasarkan identifikasi sementara, keluhan mereka tersebut bukan dampak langsung dari oil spill," tambahnya.

Adapun jadwal dokter jaga di Posko Cemara Jaya adalah dr. Anugerah, dr Thomas; di Posko Sungai Buntu, dr Iyan, Posko Pantai Mutiara, dr Gerry; dan Posko Sedari, dr Windi.

Sampai saat ini, Pertamina dan pihak terkait masih menginvestigasi penyebab kejadian.  Namun, indikasi sementara menunjukkan adanya anomali tekanan pada anjungan yang menyebabkan munculnya gelembung gas dan diikuti oil spill.

Lebih lanjut, Pertamina memperkirakan perlu waktu sekitar delapan minggu sejak 25 Juli 2019 untuk menghentikan sumber gas dan oil spill.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertamina, karawang

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top