Berdiri Sejak 1969, Begini Kiprah Perusahaan Bumbu Ajinomoto

Produsen bumbu umami Jepang Ajinomoto menyatakan akan terus berinovasi meski kiprahnya di Indonesia sudah memasuki setengah abad.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 27 Juli 2019  |  20:05 WIB
Berdiri Sejak 1969, Begini Kiprah Perusahaan Bumbu Ajinomoto
Suasana pabrik Ajinomoto Mojokerto saat dikunjungi media, Kamis (29/11/2018). - Bisnis/Peni Widarti

Bisnis.com, JAKARTA — PT Ajinomoto Indonesia, produsen bumbu umami Jepang Ajinomoto menyatakan akan terus berinovasi meski kiprahnya di Indonesia sudah memasuki setengah abad.

Hal itu disampaikan Presiden Direktur PT Ajinomoto Indonesia Grup Ichiro Sakakura saat memaparkan Tinjauan Inovasi dan Kontribusi Ajinomoto untuk Indonesia pada gelaran Pra-event 50 Tahun Ajinomoto di Jakarta belum lama ini.

“Dalam perjalanannya di Indonesia, Ajinomoto terus melakukan pertumbuhan yang berkelanjutan dengan mendirikan pabrik kedua di Karawang di tahun 2012, juga meluncurkan Mayumi, produk mayones. Tahun 2015, PT Ajinomoto Bakery Indonesia berdiri,” kata Sakakura melalui siaran pers, Sabtu (27/7/2019).

Sakakura menambahkan bahwa Ajinomoto terus mengembangkan dan menguatkan posisinya di sektor pangan Indonesia dengan meluncurkan merek baru hingga di 2019 ini.

Pada 2017, Ajinomoto menjual mi instan dengan merek Yum Yum, dan bubuk saus pasta Delito. Di tahun ini, Ajinomoto berekspansi dengan meluncurkan Birdy Latte Café, dan memulai bisnis minuman bubuk di Indonesia.

Berbeda dari industri-industri lain yang cenderung memasarkan produk yang sudah ada saat memasuki usia matang, Ajinomoto justru terus berinovasi untuk memenuhi selera konsumen Indonesia yang beragam.

“Kami memiliki Masako, bumbu kaldu dari ekstrak daging asli, lalu Sajiku, bumbu praktis dengan varian yang sesuai dengan cita rasa konsumen Indonesia, serta Saori, pionir bumbu cair oriental,” ujar Sakakura.

Tidak hanya di lini produk, untuk mendukung program pemerintah di sektor lapangan kerja, Ajinomoto berkontribusi dengan meningkatkan serapan tenaga kerja di fasililtas-fasiltas produksinya.

“Untuk serapan tenaga kerja, per Maret 2019, PT Ajinomoto Indonesia dengan empat grup perusahaannya telah mempekerjakan sekitar 3.700 orang,” tutur Sakakura.

Sakakura menyampaikan bahwa serapan kerja tersebut dibarengi dengan sejumlah program edukasi dan pelatihan yang dijalankan selaras dengan pesan perusahaan yaitu Eat Well, Live Well.

“Untuk di lingkungan internal kami memiliki Workplace Nutrition Activity, yaitu pemberian makan siang bergizi dan edukasi gizi bagi karyawan baik di kantor, juga pabrik. Sementara untuk masyarakat secara luas, kami meluncurkan Dapur Umami, School Lunch Program yang bekerja sama dengan IPB, juga support gizi dan edukasi gizi kepada atlet renang nasional I Gede Siman Sudartawa dalam program Winning Meal Project,” sambung Sakakura.

Ajinomoto bukan nama baru di industri makanan dan minuman. Perusahaan di balik merek Ajinomoto ini memulai bisnisnya di Indonesia pada 1969 dan mulai memproduksi Ajinomoto pada 1970 di pabrik Mojokerto.

Perusahaan yang meraih sejumlah penghargaan di bidang pangan, gizi, dan pemanfaatan hasil buang produksinya ini juga dikenal lewat kualitas dan jaminan produknya yang memenuhi sertifikasi Halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hal itu dibuktikan dengan pemberian Sistem Jaminan Halal (SJH) kepada Ajinomoto.

“Ajinomoto berupaya merealisasikan kehidupan yang tumbuh dan berkelanjutan dengan mengusung konsep ASV –Ajinomoto Shared Value, berupaya berkontribusi terhadap isu sosial yang diselaraskan dengan nilai bisnis dari perusahaan Ajinomoto,” kata Sakakura.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri, AJINOMOTO

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top