Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pertamina Menjadi Perusahaan Global

PT Pertamina (Persero) menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar Fortune Global 500 2019. BUMN penyedia energi nasional tersebut berada di peringkat 175.
Fahmy Radhi
Fahmy Radhi - Bisnis.com 25 Juli 2019  |  19:12 WIB
Menteri ESDM Ignasius Jonan (tengah) bersama Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar (kiri) dan Dirut Pertamina Nicke Widyawati usai jumpa pers pengumuman pengelolaan lanjutan Blok Migas Corridor di Jakarta, Senin (22/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Menteri ESDM Ignasius Jonan (tengah) bersama Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar (kiri) dan Dirut Pertamina Nicke Widyawati usai jumpa pers pengumuman pengelolaan lanjutan Blok Migas Corridor di Jakarta, Senin (22/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Di tengah kesibukan mengatasi kebocoran gas di sumur Blok Offshore North West Jawa (ONWJ), PT Pertamina (Persero) mendapat kabar gembira telah menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk ke dalam daftar Top 500 Fortune Global 2019. Tidak tanggung-tanggung, Pertamina melompati 78 peringkat dari peringkat 253 pada 2018 melompat menjadi peringkat 175. Bahkan, dengan peringkat itu, Pertamina mengalahkan perusahaan global Alibaba Group yang berada di peringkat 182 dan Facebook pada peringkat 184.

Pemeringkatan Fortune Global 500 merupakan ajang tahunan yang dilakukan majalah Fortune sejak tahun 1955. Berawal dari daftar 500 perusahaan terbesar di AS di berbagai sektor industri dan bisnis. Pemeringkatan kemudian diperluas pada perusahaan global, yang dinilai berdasar 12 indikator. Tolak ukur utamanya adalah besaran pendapatan, termasuk pendapatan anak perusahaan (consolidated gross revenue), penyertaan modal pemegang saham, kapitalisasi pasar, keuntungan, dan jumlah karyawan. 

Berdasarkan laporan keuangan audited, Pertamina mencatat pendapatan sebesar US$57,93 miliar pada 2018, lebih tinggi 34,9 persen dibanding pendapatan 2017 sebesar US$37,71  miliar. Pada 2018, Pertamina berhasil meraup laba US$2,54 miliar atau setara Rp36,14 triliun, aset mencapai US$64,7 miliar atau setara Rp920,57 triliun, dan jumlah karyawan sebanyak 31.569 karyawan yang tersebar di seluruh dunia.

Lompatan peringkat pada Top 500 Fortune Global 2019 itu membuktikan bahwa Pertamina menjadi perusahaan global, yang mampu bersaing dengan perusahaan global lainnya. Pencapaian ini tidak lepas dari peran manajemen Pertamina dalam memastikan availability, accessibility, affordability, acceptability, dan sustainability energi nasional. Selain itu, manajemen Pertamina secara istiqomah menerapkan strategi jangka panjang perusahaan (corporate strategy), yaitu “Aggressive in Upstream, Profitable in Downstream”. Perseroan melakukan ekspansi bisnis hulu dan menjadikan bisnis hilir migas lebih efisien dan menguntungkan.

Pertamina juga melakukan prudent cash management dan program efisiensi sehingga dapat menurunkan beban biaya umum dan administrasi dari US$1,60 miliar pada 2017 menjadi US$1,33 miliar pada 2018. Dengan penjualan agresif, prudent cash management dan program efisiensi, Pertamina dapat mencapai kinerja keuangan lebih tinggi ketimbang target ditetapkan, yang menjadi salah satu variabel penilaian peringkat pada Top 500 Fortune Global 2019.

Sebagai BUMN, Pertamina sesungguhnya tidak semata-mata mengejar perolehan laba, tetapi juga berkewajiban menjalankan public service obligation (PSO), di antaranya menjalankan kebijakan pemerintah dalam BBM Satu Harga. Pencapaian peringkat 175 Top 500 Fortune Global 2019 menepis anggapan bahwa Pertamina mengalami kerugian dalam melaksanakan PSO BBM Satu Harga dengan biaya antara Rp800 miliar hingga Rp1 triliun per tahun. Demikian juga dengan isu bahwa Pertamina menanggung potential lost dalam jumlah besar yang menyebabkan kebangkrutan, terbukti tidak benar. Isu kebangkrutan Pertamina dihembuskan pada saat Pemerintah memutuskan tidak menaikkan harga BBM Premium, padahal harga minyak dunia mencapai di atas US$80 per barel sepanjang 2018. Realitanya, kendati Pertamina harus menjalankan kedua PSO itu, tetapi Pertamina masih meraup laba yang menjadi dasar penilaian sehingga menghantarkan Pertamina mencapai peringkat 175 Top 500 Fortune Global 2019.

Dengan pencapaian peringkat 175 itu, tidak berlebihan dikatakan bahwa Pertamina sudah menjadi perusahan global, bahkan mampu bersaing dengan banyak perusahaan global ternama lainnya. Namun, harus disadari bahwa peringkat Pertamina itu bisa turun, bahkan tidak mustahil Pertamina akan terpental dalam Top 500 Fortune Global pada tahun-tahun berikutnya. Untuk meningkatkan peringkat, minimal bertahan pada peringkat 175, dan tetap menjadi perusahaan global, ada beberapa upaya yang harus dilakukan Pertamina, pemerintah, dan DPR. 

Pertama, Pertamina harus aktif ekspansi investasi di lahan migas di dalam dan luar negeri. Tahap awal investasi di luar negeri dapat dilakukan dengan akuisisi lahan migas yang sudah berproduksi. Sedangkan di dalam negeri, Pertamina harus investasi pada lahan migas yang baru, di samping lahan migas terminasi. Di samping itu, Pertamina harus melanjutkan penjualan agresif, prudent cash management dan program efisiensi, serta konsisten menjalankan corporate strategy, untuk memperbesar pendapatan dan perolehan laba, serta penyetoran dividen.

Kedua, pemerintah harus mengizinkan Pertamina untuk menguasai aset-aset melalui monetisasi aset agar dapat menaikkan international leverage, sehingga memudahkan Pertamina dalam mencari sumber pendanaan investasi, baik berasal dari kredit konsorsium bank internasional, maupun dalam menerbitkan global bond.

Ketiga, pemerintah dan DPR harus meminimalisasikan intervensi berlebihan kepada Pertamina dalam menjalankan corporate actions yang membutuhkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan transparan. Selain itu, perlu dibuat regulasi yang mengatur bahwa dalam setiap pengambilan keputusan terkait corporate actions, direksi tidak dapat dipidanakan. Regulasi ini dimaksudkan untuk mendorong keberanian direksi untuk mengambil keputusan terkait corporate actions secara cepat dan transparan.

Tanpa Pertamina istiqomah dalam menerapkan corporate strategy, serta pemerintah dan DPR dalam melaksanakan ketiga upaya tersebut, mustahil bagi Pertamina tetap menjadi perusahaan global dengan bertahan pada peringkat 175 Top 500 Fortune Global. Bahkan tidak menutup kemungkinan bagi Pertamina terpelanting dari Top 500 Fortune Global, sehingga tidak lagi menjadi perusahaan global, melainkan kembali menjadi perusahaan jago kandang.

Fahmy Radhi, Pengamat Ekonomi Energi dan Pertambangan Universitas Gadjah Mada

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina migas
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top