Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Jamu Minta Kemudahan Sertifikasi Produk

Tanggapan pasar global terhadap varian tanaman obat Indonesia sangat bagus.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 24 Juli 2019  |  10:09 WIB
Petugas menyortir rempah-rempah di Pusat Saintifikasi dan Pelayanan Jamu (PSPJ) di Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (17/1/2019). - ANTARA/Harviyan Perdana Putra
Petugas menyortir rempah-rempah di Pusat Saintifikasi dan Pelayanan Jamu (PSPJ) di Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (17/1/2019). - ANTARA/Harviyan Perdana Putra

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku industri obat tradisional berharap kemudahan dalam menerbitkan sertifikat bagi produk obat tradisional yang diminati pembeli di luar negeri sehingga dapat meningkatkan ekspor.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu Dwi Ranny Pertiwi mengatakan penambahan bahan baku tanaman obat yang bisa digunakan akan menggenjot kinerja ekspor. Menurutnya, tanggapan pasar global terhadap varian tanaman obat sangat bagus jika dibandingkan dengan tanaman obat yang sudah sering diproduksi seperti temulawak.

Pihaknya sedang berkomunikasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) agar ada kemudahan dalam penerbitan sertifikat produk obat tradisional yang telah diminati atau dipesan pembeli dari luar negeri.

“Saya minta BPOM untuk membantu mengeluarkan sertifikat bagi produk yang sudah bisa ekspor walaupun belum mendapatkan CPOTB [cara pembuatan obat tradisional yang baik] kalau sudah ada yang minta,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (23/7/2019).

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sebelumnya menuturkan dalam mendorong agar lebih banyak produk obat tradisional yang bisa menembus pasar ekspor, pemerintah memberikan dukungan, seperti memfasilitasi pameran dan promosi, terutama bagi produk unggul.

Kemenperin menilai industri obat tradisional merupakan sektor yang inklusif atau banyak masyarakat yang bisa mengembangkannya. Pasar obat tradisional di dalam negeri cukup besar mengingat jumlah populasi Indonesia yang berada di kisaran 260 juta jiwa.

“Tentunya kebutuhan cukup banyak, apalagi dengan adanya obat pencegahan yang bisa membuka pasar untuk obar tradisional,” katanya.

Sementara itu, guna memacu pertumbuhan lapangan usaha industri jamu dan farmasi, Direktur PT Industri jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Irwan Hidayat, mengusulkan agar BPOM melakukan penelitian dan uji toxinitas terhadap 30.000 jenis tanaman obat yang ada di dalam negeri.

Irwan menyarankan agar BPOM melakukan penelitian terhadap 10—20 tanaman obat setiap 6 bulan. Menurutnya, penelitian tersebut akan membuka peluang produksi obat baru dan substitusi bahan baku yang lebih terjangkau. Alhasil, jenis penyakit yang bisa diobati akan lebih banyak.

“Di China boleh menggunakan 5.000 [jenis tanaman obat sebagai] bahan baku yang diizinkan BPOM China. Di sini cuma 350 jenis tanaman,” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri jamu
Editor : Galih Kurniawan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top