Temperatur Naik 1,5 Derajat Celcius, Ini Dia Kebijakan Pemerintah Indonesia

Temperatur Indonesia diprediksi meningkat 1,5 derajat Celsius dan Indonesia membutuhkan dana sebesar US$247 miliar untuk transisi.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 19 Juli 2019  |  16:45 WIB
Temperatur Naik 1,5 Derajat Celcius, Ini Dia Kebijakan Pemerintah Indonesia
Ilustrasi perubahan iklim - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Temperatur Indonesia diprediksi meningkat 1,5 derajat Celsius dan Indonesia membutuhkan dana sebesar US$247 miliar untuk transisi.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang P.S. Brodjonegoro menyatakan kondisi iklim ini akan menciptakan bencana hidro-meteorologi seperti banjir, kekeringan, longsor. Selain itu, juga berkurangnya produksi pertanian, dan terbatasnya area penangkapan ikan untuk nelayan.

"Jika dibiarkan, kondisi tersebut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” papar Bambang Brodjonegoro melalui siaran pers yang diterima Bisnis.com, Jumat (19/7/2019).

Bambang menyatakan kondisi tersebut sesuai dengan pembahasan Special Report on Global Warming of 1,5°C, laporan komprehensif yang dirilis Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada Oktober 2018.

Laporan tersebut berisi ulasan mengenai pembatasan naiknya pemanasan global 1,5°C memerlukan transisi yang cepat dan luas, baik penggunaan energi, pengelolaan lahan, pengembangan infrastruktur perkotaan yang berkelanjutan, termasuk transportasi, bangunan, serta sistem industri.

Bambang menjelaskan Indonesia hanya memiliki waktu 11 tahun lagi untuk mencapai target pencegahan di 2030.

Sementara itu pada sektor maritim, dampak perubahan iklim dapat dilihat dari proyeksi naiknya temperatur permukaan laut sebesar 0,25 derajat Celsius dalam periode 2006-2040, juga ombak ekstrem. Kondisi ini akan mempengaruhi biodiversitas, menyebabkan terumbu karang memutih, dan berdampak pada kehidupan pesisir laut.

"Studi Bappenas menunjukkan Indonesia memiliki setidaknya garis pantai sepanjang 18.000 kilometer yang masuk ke kategori area rentan terdampak,” ungkap Bambang.

Lebih lanjut, komitmen Indonesia untuk mencapai target-target terkait perubahan iklim juga ditegaskan melalui Pembangunan Rendah Karbon (PRK) Indonesia.

Skenario PRK moderat memprediksi PDB Indonesia dapat dipertahankan pada angka 5,3% pada 2045 dan penurunan emisi rumah kaca sebesar 29% pada 2045.

Sementara itu, skenario yang lebih ambisius memprediksi pertumbuhan PDB hingga 6% pada 2045 dengan penurunan emisi gas rumah kaca hingga 41% pada 2030.

Namun, transisi menuju PRK dan aksi responsif terhadap perubahan iklim lainnya membutuhkan investasi yang cukup besar. Sesuai dengan target Nationally Determined Contribution (NDC), Indonesia membutuhkan US$247 miliar untuk transisi.

Sementara itu di tataran global, dengan perhitungan pendanaan rata-rata yang mengacu pada NDC, banyaknya investasi yang dibutuhkan mencapai US$4,4 triliun.

Dibandingkan dengan nilai investasi yang dibutuhkan tersebut, Indonesia masih butuh pendanaan yang masif, mengingat pada 2018, alokasi anggaran untuk aksi perubahan iklim tercatat hanya US$9,3 miliar. Untuk itu, tahun ini, Indonesia menerbitkan green sukuk senilai US$1,25 miliar.

The Green Climate Fund (GCF) diharapkan mampu menyediakan dukungan pendanaan untuk negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Saat ini, GCF sudah mendukung tiga proyek di Indonesia, yakni pertama, Mitigasi Risiko Sumber Daya Geotermal yang berpotensi menurunkan 112,2 juta ton karbondioksida per tahun dengan total pendanaan US$410 juta.

Kedua, pengembangan Bus Rapid Transit di Semarang dengan total hibah GCF sebesar US$788 ribu. Program ini berpotensi mengurangi 210.000 ton karbondioksida per tahun.

Ketiga, Climate Investor One, proyek yang diimplementasikan di 11 negara, termasuk Indonesia. GCF juga sepakat untuk memberikan US$100 juga dengan co-financing sebesar US$721,5 juta.

"Proyek ini akan menyediakan pendanaan proyek energi terbarukan yang diharapkan mampu mengurangi 53,7 juta ton karbondioksida per tahun,” tutup Bambang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perubahan iklim

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top