Dari Omzet Hingga Isu Toilet: 'Pahit Manis' Hubungan Mal dan Ojol di Jakarta

Kehadiran para pengemudi ojek daring atau akrab disebut ojek online (ojol), yang mengantar dan menjemput penumpang atau melakukan transaksi jasa penitipan pembelian barang, dianggap mampu mendongkrak penjualan di pusat perbelanjaan.
Yustinus Andri DP Yustinus Andri DP | 18 Juli 2019 12:50 WIB
Dari Omzet Hingga Isu Toilet: 'Pahit Manis' Hubungan Mal dan Ojol di Jakarta
Pengemudi ojek online sedang membeli pesanan pelanggan di Pasar Santa, Jakarta Selatan - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA — Pesatnya perkembangan teknologi yang turut mengubah gaya berbelanja masyarakat, merupakan keniscayaan yang harus dihadapi oleh seluruh kalangan.

Situasi tersebut tak terkecuali dihadapi oleh para pengelola pusat perbelanjaan dan tenan penyewa. Perubahan gaya berbelanja tersebut, berupa maraknya transaksi yang melibatkan jasa ojek daring, dalam hal ini yang disediakan oleh Grab dan Gojek. 

Kehadiran para pengemudi ojek daring atau akrab disebut ojek online (ojol), yang mengantar dan menjemput penumpang atau melakukan transaksi jasa penitipan pembelian barang, dianggap mampu mendongkrak penjualan di pusat perbelanjaan. 

Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan, transaksi melalui jasa ojol, menyumbang sekitar 20% dari total penjualan peritel segmen makanan dan minuman. Akibatnya, kehadiran jasa ojol sangat diandalkan oleh para peritel segmen tersebut.

“Kami sangat mengapresiasi kehadiran ojol, karena selain meningkatkan penjualan, juga membuat proses efisiensi biaya operasional peritel meningkat. Sebab kami peritel tidak perlu menyediakan jasa pesan-antar dalam jumlah besar lagi,” ujarnya kepada Bisnis.com, Rabu (17/7/2019).

Kendati demikian, kehadiran pengemudi ojol juga dinilai menciptakan masalah baru bagi pengelola pusat perbelanjaan.

Tag : Ojek Online
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top