Ini Kunci Peningkatan Ekspor Produk Perkebunan Indonesia

Peningkatan produk ekspor perkebunan bisa terus ditingkatkan selama bisa memenuhi standar dan permintaan pasar di luar negeri. Di samping itu, pasar domestik pun harus terus digenjot.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 17 Juli 2019  |  12:34 WIB
Ini Kunci Peningkatan Ekspor Produk Perkebunan Indonesia
Petugas Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar memeriksa buah Salak Gula Pasir siap ekspor saat kegiatan pelepasan ekspor komoditas pertanian unggulan Bali di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, Kamis (21/3/2019). - ANTARA/Fikri Yusuf

Bisnis.com, JAKARTA -- Peningkatan ekspor produk perkebunan bisa terus ditingkatkan selama bisa memenuhi standar dan permintaan pasar di luar negeri.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti  menyatakan peningkatan nilai ekspor hanya akan tercapai jika pelaku usaha dalam negeri memiliki tekad untuk menghasilkan produk yang mengikuti standar negara pengimpor. Jika hal ini sulit terealisasi, Esther menilai konsumsi dalam negeri mau tidak mau harus digenjot.

Untuk itu, pemerintah harus memiliki komitmen politik dan kebijakan yang kuat guna mendukung peningkatan serapan produksi komoditas perkebunan dalam negeri. Salah satunya lewat insentif yang mendukung industri dalam negeri menghasilkan produk derivatif komoditas perkebunan seperti energi terbarukan dari minyak kelapa sawit.

"Jadi, pemerintah seharusnya memberi suatu insentif kepada pasar domestik. Misalnya pada pelaku usaha yang mengembangkan energi terbarukan dari komoditas perkebunan seperti biofuel,” katanya kepada Bisnis, Selasa (16/7/2019).

Menurutnya, insentif tersebut tidak harus berupa insentif fiskal, tetapi juga bisa dalam bentuk kemudahan dalam memproduksi energi terbarukan maupun kemudian untuk melakukan riset. Dia mengungkapkan hal tersebut sudah dilakukan Kementerian Keuangan lewat super deductible tax kepada perusahaan yang melakukan penelitian dan pengembangan ke arah inovasi.

Untuk pasar luar negeri, dia menilai Indonesia tak perlu mengalihkan fokus ekspor komoditas perkebunan dari kelapa sawit atau karet ke tanaman lain meskipun komoditas tersebut tengah diterpa tren harga global yang negatif.

Menurutnya, Indonesia masih menikmati keunggulan komparatif sebagai salah satu produsen minyak sawit atau CPO terbesar di dunia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
karet, perkebunan, minyak sawit

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top