Ketika ITFC Membiayai Eksportir Kopi US$30 Juta

Eksportir bisa mengajukan pendanaan dengan sejumlah kriteria diantaranya perusahannya sudah beroperasi lebih dari tiga tahun dan setiap bulan melakukan ekspor dua sampai tiga kontainer kopi.
Akhirul Anwar
Akhirul Anwar - Bisnis.com 17 Juli 2019  |  05:55 WIB
Ketika ITFC Membiayai Eksportir Kopi US$30 Juta
CEO International Islamic Trade Finance Corporation (ITFC) Eng Hani Salem Sonbol menuangkan kopi dalam mesin pengupas di Kecamatan Naman Teran Kabupaten Karo Sumatra Utara, Selasa (16/7/2019) - Bisnis/Akhirul Anwar

Bisnis.com, BERASTAGI - International Islamic Trade Finance Corporation (ITFC) anggota dari Islamic Developmet Bank (IsDB) menyiapkan pendanaan murabahah sebesar US$30 juta atau setara Rp417 miliar bagi eksportir komoditas kopi di Indonesia.

CEO ITFC Eng Hani Salem Sonbol mengatakan alokasi dana tersebut bertujuan untuk meningkatkan pasokan biji kopi lokal untuk ekspor Indonesia. Tiga perusahaan eksportir lokal telah menandatangani kerja sama pendanaan ini senilai US$6 juta atau masing-masing mendapatkan pembiayaan US$2 juta setara Rp27,9 miliar.

"Dana US$30 juta itu untuk eksportir, di awal sudah ditandatangani US$6 juta dan masih ada US$24 juta. Pendanaan ini bergulir enam bulan," katanya pada konferensi pers penandatanganan perjanjian pendanaan murabahah di Berastagi Sumatra Utara, Selasa (16/7/2019).

Syarat untuk mendapatkan pendanaan ini diantaranya perusahaan eksportir beroperasi lebih dari tiga tahun dan melakukan aktivitas ekspor 2-3 kontainer per bulan. Eksportir tidak perlu mengagunkan aset tetapnya tetapi bisa menjaminkan dengan green bean yang dimiliki.

Program pendanaan ini juga dibarengi dengan upaya peningkatan produksi kopi oleh petani. ITFC menggandeng LSM Sustainable Coffe Platform of Indonesia (SCOPI) dan PETRASA untuk memberikan pelatihan kepada 349 petani kopi di 11 desa di Kabupaten Karo dan Kabupaten Dairi Sumatra Utara.

CEO ITFC Eng Hani Salem Sonbol memberikan sertifikat kepada petani kopi di Sumatra Utara yang telah diwisuda didampingi Wakil Gubernur Sumatra Utara Musa Rajekshah/Bisnis-Akhirul Anwar

Kegiatan pelatihan berlangsung sejak September 2018 dan pada Juli 2019 ini sudah dinyatakan lulus program bernama Coffee Farmers Field Training Program tersebut. Pelatihan ini menekankan petani untuk budi daya kopi secara organik serta dilatih menghasilkan kopi yang baik agar layak ekspor. 

Kombinasi antara pembinaan petani kopi dan pendanaan eksportir kopi ini diharapkan bisa menjasi solusi perdagangan terpadu untuk meningkatkan ekspor kopi Indonesia. Dengan kombinasi ini maka petani diharapkan meningkatkan produktifitas kopi siap ekspor dan eksportir dengan pendanaan ITFC akan membeli produk kopi dari petani tersebut.

Hani menjelaskan bahwa program ini merupakan Solusi Pengembangan Terpadu pertamanya dalam bentuk dukungan pada sektor kopi Indonesia. Progam akan dievaluasi selama tiga tahun atau pada 2022 dan jika ini terbilang sukses maka akan dilanjutkan untuk pengembangan perdagangan terpadu komoditas lain di Indonesia.

Latar belakang daripada keinginan ITFC melakukan program ini adalah karena Indonesia merupakan ekspotir nomor empat terbesar dunia setelah Brasil, Vietnam dan Kolumbia. Kopi Indonesia dipandang memiliki peluang yang besar dalam perdagangan komoditas dunia.

Apalagi tingkat konsumsi kopi secara global mengalami kenaikan yang tentunya akan membuka peluang pasar yang lebih lebar. Konsumsi kopi dunia 2017-2018 berdasarkan data International Coffee Organization menunjukkan tumbuh 3,13 persen, sedangkan pertumbuhan produksi kopi hanya tumbuh 1,96 persen.

CEO ITFC Eng Hani Salem Sonbol (tengah), GM Trade & Busindess Development Eng Nasser Al Thekhair (kiri) dan Div. Manager Trade Development Aymen Kaseem/Bisnis-Akhirul Anwar

Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar Kementan Irmijati Rachmi Nurbahar mengatakan bahwa kopi memiliki peluang besar dari sisi agribisnis. Tetapi dalam pengembangan kopi nasional ada permasalahan dari hulu sampai hilir.

Irmijati yang membacakan sambutan Dirjen Perkebunan Kementan, Kasdi Subagyono memaparkan dari hulu masih rendahnya produktifitas salah satunya disebabkan oleh kondisi tanaman sudah tua dan kurang produktif.

Sedangkan di hilir mengalami permasalahan masih kurangnya penanganan saat panen dan pascapanen yang berimbas terhadap kualitas kopi.

Pemerintah sudah melakukan upaya dengan rehabilitasi, intensifikasi dan ekstensifikasi tanaman kopi dengan tujuan untuk meningkatkan produksi.

Dengan hadirnya ITFC melakukan pengembangan kopi ekspor Indonesia, pemerintah memberikan apresiasi dan diharapkan tidak cuma komoditi kopi saja tetapi juga komoditas perkebunan lainnya.

Buah kopi hasil panen di Kecamatan Nanam Teran Kabupaten Karo Sumatra Utara/Bisnis-Akhirul Anwar

Bupati Karo, Terkelin Brahmana mengatakan luas tanaman kopi sampai 2018 mencapai 9.128 hektare dengan produksi 13.279 ton dan rata-rata produksi 1,9 ton kilogram per hektare per tahun.

Selama ini, katanya, sebagian besar petani belum intensif melakukan budi daya kopi. Diharapkan dengan peluang ekspor kopi ini diharapkan masyarakat bisa meningkatkan produksi dan menyejahterakan petani.

Asisten Hubungan Ekonomi dan Infrastruktur Kantor Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah dan OKI, Aditya Perdana menyampaikan apresiasi peran ITFC memberikan training untuk petani karena tidak hanya mengembangkan kapasitas dan kualitas tetapi juga tentang kebutuhan ekspor.

"Ke depan program ini dikembangkan tiak hanya di Sumatra Utara tapi juga di provinsi lain," katanya.

Wakil Gubernur Sumatra Utara Musa Rajekshah berharap petani memiliki kesejahteraan ekonomi yang semakin baik dengan menghasilkan produksi pertanian maupun perkebunan yang bertaraf ekspor.

Musa pernah menyampaikan kepada Balai Karantina bahwa Sumut melakukan ekspor kopi, kol, jagung dan lainnya. "Saya menyampaikan, kami menginginkan petani menjadi orang kaya, jangan hidup pas-pasan saja" katanya.

Bijih kopi yang sudah dikupas/Bisnis-Akhirul Anwar

Untuk meningkatkan taraf ekonomi petani itu, Pemprov Sumut akan membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang akan membeli komoditas pangan hasil daerah.

Pihaknya telah meminta bantuan dari Kementerian Pertanian dan  telah berbicara dengan ITFC untuk membangun kultur agar komoditas tanaman memiliki standar ekspor.

Musa berharap dengan adanya BUMD komoditas ini diharapkan menciptakan persaingan yang sehat bersama eksportir lokal sehingga akan memberikan harga yang baik kepada petani.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopi, ITFC

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top