Perluasan Ladang Garam Terkendala Status Lahan

Status lahan masih menjadi tantangan dalam melakukan perluasan atau ekstensifikasi ladang garam yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 16 Juli 2019  |  08:55 WIB
Perluasan Ladang Garam Terkendala Status Lahan
Petani garam di Kabupaten Nagakeo, NTT - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA--Status lahan masih menjadi tantangan dalam melakukan perluasan atau ekstensifikasi ladang garam yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Agung Kuswandono mengatakan kondisi status lahan di sejumlah lokasi yang ditarget untuk masuk dalam program perluasan ladang garam menjadi salah satu tantangan dalam program swasembada garam yang dicanangkan pemerintah. 

“Kita harus akui bahwa kelemahan kita saat ini adalah [status] clean and clear tanah,” ujarnya, baru-baru ini.

Adapun pemerintah tengah menyiapkan berbagai langkah untuk dapat memenuhi kebutuhan garam dalam negeri. Hal tersebut sekaligus bisa menekan impor yang tahun ini disepakati sebanyak 2,724 juta ton dengan potensi permintaan tambahan mencapai 400.000 ton. 

Salah satunya dengan mengembangkan pabrik penghasil garam industri.

Deputi Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Eniya Listiani Dewi mengatakan pengembangan pabrik tersebut diestimasi bisa dieksekusi dalam waktu dekat. Dengan investasi sekitar Rp29 miliar, pabrik ini diprediksi bisa menghasilkan 40.000 ton garam per tahun untuk kebutuhan industri. 

Eniya menyebutkan satu unit pabrik sebagai pilot project diestimasi akan mulai beroperasi pada Desember tahun ini. Pabrik ini akan dibangun di lahan milik PT Garam yang ada di Gresik. Pabrik akan menyerap garam dengan kualitas KW 1 dari PT Garam sebagai bahan baku

 “Saya prediksi Agustus sudah berdiri nanti konstruksi. Sistemnya kerja sama operasi. Nanti yang mengoperasikan PT Garam,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
garam, impor garam

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top