Neraca Dagang Juni Diperkirakan Surplus Tipis

Neraca perdagangan Juni diperkirakan surplus US$500 juta sampai US$687juta terdorong oleh musim libur dan kinerja impor melambat.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 15 Juli 2019  |  07:09 WIB
Neraca Dagang Juni Diperkirakan Surplus Tipis
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Neraca perdagangan Juni diperkirakan surplus US$500 juta sampai US$687juta terdorong oleh musim libur dan kinerja impor melambat.

Josua Pardede, Ekonom PT Bank Permata Tbk. mengatakan bahwa neraca perdagangan akan mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat surplus US$210 juta. 

"Adapun peningkatan surplus Juni didorong oleh laju pertumbuhanan bulanan impor yang lebih lambat dibandingkan ekspor," ungkap Josua kepada Bisnis.com, Minggu (14/7/2019).

Josua memprediksi laju ekspor Juni diperkirakan tercatat -3,52% (y-o-y), dipengaruhi oleh penurunan volume.

"Hal ini karena masih lemahnya aktivitas manufaktur mitra dagang Indonesia dan harga komoditas ekspor seperti CPO," sambung Josua.

Sementara itu, untuk laju impor diperkirakan tercatat 5% (y-o-y). Dia memprediksi impor akan tertekan oleh volume seiring dengan melambatnya aktivitas manufaktur domestik.

Meski demikian secara umum, Josua menilai laju pertumbuhan bulanan baik ekspor dan impor cenderung melambat signifikan.

"Ini dikarenakan libur Lebaran pada awal bulan Juni," terangnya.

Senada dengan Josua, ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Muhammad Faisal mengatakan momen Idulfitri yang jatuh pada Juni lalu adalah kondisi musiman yang menyebabkan kegiatan ekspor dan impor menurun tajam.

"Maka perkiraan saya ada surplus tipis kurang dari US$500 juta. Tidak jauh beda dengan bulan sebelumnya," papar Faisal kepada Bisnis.com.

Dia menambahkan faktor pendukung dalam pencapaian surplus ini tidak disebabkan oleh dorongan ekspor. Melainkan karena impor yang turun lebih tajam ketimbang ekspor. 

Oleh sebab itu, dia menilai masalah tingginya impor migas di Indonesia adalah masalah struktural yang masih jadi pekerjaan rumah pemerintah.

"Itu masalah struktural kita yang dengan impor migas tinggi, maka potensi defisit ke depan masih besar karena harga minyak dunia masih berpotensi meningkat," papar Faisal.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo sudah menyinggung masalah ekspor-impor Mei 2019 berbasis data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Dia menyatakan kenaikan tertinggi terjadi di impor migas. Dia pun memberi ultimatum kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menurunkan angka impor tersebut.

"Saya minta agar kebijakan yang berkaitan dengan investasi dan ekspor betul-betul konkret, betul-betul dieksekusi dengan mendengar dari kesulitan apa yang dialami oleh para pelaku," kata Jokowi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Neraca Perdagangan

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top