Genjot Proyek Penghiliran, Bukit Asam Bakal Gandakan Produksi Batu Bara

Produksi PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) akan ditingkatkan sebanyak dua kali lipat dalam lima tahun ke depan untuk mendukung berbagai rencana penghiliran perusahaan.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 09 Juli 2019  |  14:02 WIB
Genjot Proyek Penghiliran, Bukit Asam Bakal Gandakan Produksi Batu Bara
PTBA. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Inalum (Persero) sebagai holding industri pertambangan berencana meningkatkan produksi batu bara anak usahanya, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), sebanyak dua kali lipat dalam lima tahun ke depan untuk mendukung rencana penghiliran perusahaan mulai dari proyek pembangkit listrik hingga gasifikasi.

Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin mengatakan saat ini, PTBA mampu memproduksi batu bara sekitar 25 juta ton per tahun. Dia menilai jumlah peningkatan produksi hingga dua kali lipat sudah cukup ideal untuk mendukung proyek-proyek penghiliran perusahaan ke depan.

Menurutnya, melihat kemampuan perusahaan tambang swasta yang mampu memproduksi hingga 50 juta ton per tahun, PTBA seharusnya juga bisa mencapai jumlah tersebut, khususnya dengan meningkatkan produksi batu bara kalori tinggi.

"Kalau sekarang, dengan produksi 25 juta ton setahun, jika dipakai untuk penghiliran, maka kami akan meningkatkan produksi. Jadi, 25 juta untuk hilirisasi, 25 juta untuk ekspor," katanya, Senin (8/7/2019). 

Budi menjelaskan penghiliran yang dilakukan oleh PTBA akan memanfaatkan batu bara kalori rendah yang kurang ekonomis apabila diekspor. Pengangkutan batu bara kalori rendah membutuhkan biaya lebih mahal untuk tetap mempertahankan kualitas, sehingga akan meningkatkan biaya distribusi.

Untuk kelistrikan, batu bara kalori rendah dengan kualitas 3.000 kcal/kg akan dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Salah satunya PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 di Tanjung Enim dengan kapasitas 2x620 MW. 

"Kalori rendah dibawah 3.000 kcal/kg kalau dijual mesti diangkut menggunakan kereta jadi lebih mahal dan gak make sense. Mending kalori rendah diproduksi listrik dan ditransfer dengan kabel," katanya. 

Proyek PLTU dengan nilai investasi senilai US$1,7 miliar tersebut direncanakan beroperasi komersial (commercial operation date/COD) pada 2022. 

Untuk gasifikasi, PTBA bersama PT Pertamina (Persero) dan Air Products and Chemicals Inc. telah menandatangani pokok-pokok perjanjian pembentukan perusahaan patungan (joint venture/JV) untuk proyek gasifikasi batu bara dari tambang PTBA di Peranap, Riau. Proyek dengan nilai investasi US$3,1 miliar tersebut rencananya memiliki kapasitas produksi 1,4 juta ton DME dan beroperasi pada akhir 2022.

DME merupakan salah satu produk pengganti LPG yang dinilai bisa memperbaiki neraca dagang Indonesia. Pasalnya, kebutuhan LPG di Indonesia mencapai 7,2 juta ton per tahun, sedangkan selama ini produksi dalam negeri hanya 2 juta ton, sehingga perlu impor lebih dari 5 juta ton LPG untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. 

Proyek serupa pun sudah dicanangkan oleh PTBA dan Pertamina pada akhir 2017 dengan menggandeng PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

Proyek dengan nilai investasi US$3,1 miliar tersebut rencananya bisa menghasilkan 570.000 ton urea, 400.000 ton DME, dan 450.000 ton polypropylene per tahun dan mulai beroperasi pada kuartal I/2023.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, ptba

Editor : Lucky Leonard
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top