GMF Tambah Kapasitas Perawatan Mesin Pesawat 3 Kali Lipat

PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia Tbk. akan menambah kapasitas perawatan mesin pesawat (engine) dari 50 unit saat ini menjadi 150 unit dalam dua tahun ke depan.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 27 Juni 2019  |  11:08 WIB
GMF Tambah Kapasitas Perawatan Mesin Pesawat 3 Kali Lipat
Plt. Direktur Utama GMF AeroAsia Tazar M. Kurniawan sedang menjawab pertanyaan wartawan usai acara Halal Bihalal dengan manajemen GMF, Selasa (25/6/2019). - Bisnis/Rio Sandy Pradana

Bisnis.com, JAKARTA - PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia Tbk. akan menambah kapasitas perawatan mesin pesawat (engine) dari 50 unit saat ini menjadi 150 unit dalam dua tahun ke depan. 

Plt. Direktur Utama GMF Tazar M. Kurniawan mengatakan, upaya tersebut dilakukan seiring dengan kenaikan kontribusi pendapatan dari perawatan engine dari 8% pada 2015 menjadi 29% pada proyeksi 2019. Adapun sebelumnya, pekerjaan yang berkontribusi terbesar pada pendapatan perusahaan adalah perawatan ringan pesawat (line maintenance).

"Kapasitas saat ini baru 50 unit. Kami akan tingkatkan, sehingga 2 tahun mendatang atau 2021 sudah bisa operasikan untuk 150 unit engine," kata Tazar, Selasa (25/6/2019).

Dia menjelaskan, langkah yang dipersiapkan adalah membeli alat pembersih mesin otomatis dan memasang alat gantung mesin menggunakan sistem roda berjalan pada Oktober 2019. Keduanya diyakini bisa menambah tingkat efisiensi kerja perawatan engine, sehingga kapasitas bertambah. 

Pihaknya menjelaskan bahwa sejak 2015, pekerjaan line maintenance berkontribusi banyak terhadap pendapatan perusahaan hingga 31%. Namun, porsi tersebut semakin berkurang seiring dengan penurunan kapasitas operasional pesawat yang digunakan maskapai nasional, yang menjadi pasar utama GMF.

Adapun, lanjutnya, pekerjaan line maintenance contohnya adalah pengisian bahan bakar, serta pengecekan oli mesin dan hidrolik ketika pesawat akan terbang. Pekerjaan dilakukan saat pesawat usai beroperasi pada malam hari atau sedang beroperasi di bandara transit.

Pada 2015, kontribusi pendapatan emiten berkode GMFI terbesar kedua dan ketiga diisi oleh perawatan komponen pesawat dan perawatan besar (airframe maintenance). Keduanya berkontribusi masing-masing 28% dan 24% terhadap total pendapatan.

Namun, Tazar menjelaskan pada 2019 komposisi kontribusi pendapatan berubah. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada perawatan engine, dengan kontribusi 29%. Nilai yang didapatkan dari pekerjaan tersebut bisa mencapai US$5--6 juta per satu unit mesin, sementara satu unit pesawat memiliki dua mesin.

Perusahaan perawatan pesawat (maintenance, repair, and overhaul/MRO) ini, telah memiliki empat hanggar dengan luas area fasilitas mencapai 970.000 m² di Kompleks Cengkareng. Adapun, jumlah outstation line maintenance mencapai 47 line di seluruh dunia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gmf aeroasia

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top