Trump Siapkan Siasat Baru Jika Perundingan Dagang dengan China Terhambat

Menjelang pertemuan antara kedua pemimpin Amerika Serikat dan China pada KTT G20 akhir pekan ini, Presiden Donald Trump memberikan ultimatum baru terhadap rivalnya, China.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 27 Juni 2019  |  15:24 WIB
Trump Siapkan Siasat Baru Jika Perundingan Dagang dengan China Terhambat
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam konferensi pers di Hotel JW Marriott, di Hanoi, Vietnam, Kamis (28/2/2019). - REUTERS/Jorge Silva

Bisnis.com, JAKARTA -- Menjelang pertemuan antara kedua pemimpin Amerika Serikat dan China pada KTT G20 akhir pekan ini, Presiden Donald Trump memberikan ultimatum baru terhadap rivalnya.

Trump mengatakan bahwa jika tidak ada kesepakatan yang tercapai pada pertemuan di Jepang maka tarif tambahan untuk sisa impor China kemungkinan akan diberlakukan.

Dalam kesempatan wawancara dengan Fox Business Network, Trump mengatakan bahwa dirinya telah menyiapkan sejumlah rencana untuk menyeimbangkan neraca dagang dengan China.

"Rencana B saya terhadap China adalah menyerap miliaran dolar AS setiap bulannya [melalui tarif] dan mengurangi kerja sama bisnis dengan mereka secara bertahap," ujar Trump seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (27/6).

Gedung Putih telah mengumumkan bahwa pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping akan dilaksanakan pada Sabtu (29/6), di Osaka, pukul 11:30 waktu setempat.

Trump sebelumnya juga pernah mengatakan bahwa dia kemungkinan akan memutuskan untuk menaikkan tarif terhadap sisa impor China senilai US$300 miliar hasil pertemuan dengan Xi di Osaka tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Agenda pertemuan antara Xi dan Trump mendorong saham Asia naik tipis pada perdagangan Kamis (27/6).

Sementara itu, pernyataan terbaru dari Trump justru sedikit menurunkan optimisme dari komentar Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin pada Senin (24/6), yang yakin bahwa pertemuan di Osaka akan berjalan baik.

"Rencana B tadi bisa saja menjadi rencana utama saya. Jika itu terjadi, rencana B akan menjadi kebijakan besaran tarif dari 25% mungkin menjadi sebesar 10%," ungkap Trump.

Dalam wawancara tersebut, Trump mengkritik beberapa mitra dagang AS, termasuk Jerman dan Vietnam yang dia sebut sebagai pihak yang menyalahgunakan kondisi tarif, di mana beberapa perushaan memindahkan fasilitas produksi mereka ke luar dari China.

Perang dagang yang berkelanjutan ini telah menyebabkan sebagian sektor industri di kedua ekonomi terbesar dunia tersebut terkontraksi.

Berdasarkan ukuran Bloomberg Economics terhadap kondisi bisnis dan sentimen pasar di kedua negara, ekspansi ekonomi terus mengalami pelemahan pada Juni.

Proyeksi yang menurun secara khusus terjadi pada perusahaan dengan skala kecil dan perusahaan swasta yang merupakan tulang punggung ekonomi.

Dibukanya kembali perundingan antara Washington dan Beijing menandai titik kritis pada cerita panjang perang dagang yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun, jika berlanjut kedua pihak hanya akan mengalami kerugian yang lebih besar.

Seorang pejabat administrasi AS mengatakan pada Selasa (25/6), belum ada kepastian terkait kesepakatan dagang apa saja yang dapat dihasilkan dari pertemuan pada akhir pekan mendatang.

Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk membuka kembali jalan menuju kesepakatan dagang yang tertunda setelah perundingan sempat terhenti sejak bulan lalu.

Kondisi tersebut membuat Trump melayangkan ultimatum bahwa Washington akan menaikkan tarif terhadap US$200 miliar impor China dari 10% menjadi 25% serta mengenakan tarif sekitar 25% pada sisa impor senilai US$200 miliar

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, Donald Trump, perang dagang AS vs China

Editor : Rahayuningsih

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top