Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Evaluasi Mudik Lebaran, Masalahnya di Rest Area

Kebijakan satu arah dapat berjalan baik ketika tidak diinterupsi oleh masyarakat yang berhenti di bahu jalan untuk beristirahat.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kedua kiri) berbincang dengan Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) II Laksamana Muda TNI Mintoro Yulianto (kedua kanan) saat meninjau Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, Jawa Timur, Senin (3/6/2019)./ANTARA-Moch Asim
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kedua kiri) berbincang dengan Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) II Laksamana Muda TNI Mintoro Yulianto (kedua kanan) saat meninjau Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, Jawa Timur, Senin (3/6/2019)./ANTARA-Moch Asim

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perhubungan menjadikan rest area atau tempat istirahat dan pelayana (TIP) sebagai bahan evaluasi utama pelaksanaan kebijakan satu arah atau one way selama perriode Angkutan Lebaran 2019.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menuturkan kebijakan satu arah dapat berjalan baik ketika tidak diinterupsi oleh masyarakat yang berhenti di bahu jalan untuk beristirahat.

"Satu arah akan bagus jika tidak diintirupsi oleh orang yang beristirahat di bahu jalan. Rest Area kami didesain dengan satu desain yang sangat memudahkan pemudik yaitu kalau berhenti di depan toko. Harusnya mereka parkir di kantong parkir," terangnya seusai Halal Bi Halal di Kantor Kemenhub, Jakarta, Senin (10/6/2019).

Menurutnya, perlu ada kombinasi antara masyarakat yang beristirahat di kota dengan pariwisata menarik dan industri yang tumbuh di banyak kota kabupaten. Selain itu, perlu juga membuat rest area yang lebih banyak.

"Angkutan umum diperbanyak, one way tetap relevan, yang tidak kalah penting adalah manajemen waktu. Ada 2 hari yang tidak dimanfaatkan untuk mudik yakni pada H-2 dan H-1 Lebaran jalan kosong," jelasnya.

Dia menuturkan terjadi ketidakseimbangan waktu libur antara arus mudik yang hingga 7 hari sementara arus balik sekaligus dalam 3 hari. Perbandingan ini jelas membuat penumpukan saat arus balik. Selain itu, menurutnya, angkutan umum dapat tumbuh dan mengambil alih sebagian besar penumpang jalan, sehingga tekanan di jalan tol tidak terlalu besar.

"Kalau nanti angkutan umum tumbuh 20%, sudah bisa mengambil alih 5 juta penumpang, jadi tekanan di jalan tidak akan besar," tuturnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper