Survei PwC : Kejahatan Dunia Maya dan Likuiditas Tantangan Korporasi Global

Dalam survei yang dilakukan oleh PricewaterhouseCoopers (PwC) dikutip Senin (10/6/2019), tantangan krisis yang dihadapi korporasi global itu sudah terlihat dalam ekosistem bisnis yang berkembang sekarang ini karena semua aktivitas perdagangan dilakukan secara online.
Stefanus Arief Setiaji
Stefanus Arief Setiaji - Bisnis.com 10 Juni 2019  |  10:52 WIB
Survei PwC : Kejahatan Dunia Maya dan Likuiditas Tantangan Korporasi Global
Ilustrasi kejahatan siber. - Reuters/Kacper Pempel

Bisnis.com, JAKARTA — Korporasi global menempatkan tiga isu terkait dengan kejahatan dunia maya, persaingan dengan layanan belanja online, dan persoalan keuangan atua likuiditas sebagai bagian dari tantangan yang dihadapi ke depan.

Dalam survei yang dilakukan oleh PricewaterhouseCoopers (PwC) dikutip Senin (10/6/2019), tantangan krisis yang dihadapi korporasi global itu sudah terlihat dalam ekosistem bisnis yang berkembang sekarang ini karena semua aktivitas perdagangan dilakukan secara online.

Survei PwC melibatkan 2.084 responden dari 25 pelaku industri yang tersebar di 43 negara.

“Kami melihat gangguan teknologi atau operasional paling sering di Eropa Barat, Australia, India, dan Jepang, krisis likuiditas keuangan paling umum terjadi di seluruh Asia, Brasil, dan Eropa bagian tengah dan timur, sementara bencana alam dan kejahatan dunia maya tampak paling besar di AS,” tulis riset tersebut.

Dalam survei tersebut, PwC juga memotret bahwa korporasi yang dihantam krisis dan mampu melewati krisis itu dengan baik, mampu mencatatkan pertumbuhan bisnis yang lebih baik.

Para pemangku kepentingan di korporasi global menyebut cepatnya informasi yang berkembang atau viral, membuat strategi komunikasi penanganan krisis juga perlu dibenahi.

“Informasi yang salah, tidak memadai, atau menyesatkan atau bahkan mengoreksi penyebaran informasi pada waktu yang salah atau dengan cara yang salah dapat memperbesar krisis,” tulis riset tersebut.

Sebanyak 87% responden memilih dalam penanganan krisis, hal yang perlu dikedepankan adalah membuat fakta secara akurat.

“Ini memberikan peluang yang signifikan bagi perusahaan untuk belajar dari kesalahan rekan-rekan mereka dengan berinvestasi lebih banyak dalam hal menemukan fakta pada masa-masa awal krisis,” dalam bagian lain riset ini.

Dalam menghadapi krisis, para ekskutif pengambil keputusan cenderung percaya diri berbicara di lingkungan internal. Namun, para pemangku kepentingan korporasi itu merasa paling rentan apabila berkomunikasi dengan pihak ekternal.

“Tim internal secara alami lebih akrab dengan para pemimpin bisnis mereka. Tetapi tidak masuk akal ketika risiko muncul dari para pemangku kepentingan eksternal seperti pelanggan, regulator, pemegang saham, media, yang tetap tidak memperoleh informasi secara benar.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
korporasi, belanja online, survei

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top