Ekonomi Jepang Tumbuh Lebih Cepat Pada Kuartal I/2019

Peningkatan belanja modal berhasil membantu mendorong ekonomi Jepang berekspansi dengan laju lebih cepat pada kuartal pertama tahun ini, terlepas dari kekhawatiran mengenai perlambatan China dan perang dagangnya dengan Amerika Serikat (AS).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 10 Juni 2019  |  08:46 WIB
Ekonomi Jepang Tumbuh Lebih Cepat Pada Kuartal I/2019
Properti di Tokyo, Jepang - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Peningkatan belanja modal berhasil membantu mendorong ekonomi Jepang berekspansi dengan laju lebih cepat pada kuartal pertama tahun ini, terlepas dari kekhawatiran mengenai perlambatan China dan perang dagangnya dengan Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data revisi oleh Kantor Kabinet Jepang yang dirilis Senin (10/6/2019), Produk Domestik Bruto Negeri Sakura tumbuh 2,2 persen secara tahunan pada kuartal I/2019.

Angka tersebut lebih besar daripada data awal yang dirilis sebelumnya sebesar 2,1 persen dan sesuai dengan estimasi revisi angka oleh para ekonom, seperti dilansir dari Bloomberg.

Para ekonom telah memperkirakan adanya revisi kenaikan dalam pertumbuhan PDB mengingat angka belanja modal yang lebih kuat dari perkiraan untuk kuartal I/2019 yang dirilis sepekan lalu.

Membaiknya angka pertumbuhan mendukung pandangan pemerintah bahwa ekonomi Jepang menunjukkan ketahanan dalam menghadapi permintaan global yang melambat dan perang dagang.

Spekulasi bahwa Perdana Menteri Shinzo Abe mungkin masih menunda kenaikan pajak penjualan di tengah kekhawatiran atas prospek ekonomi semakin mereda ketika partainya berjanji untuk menindaklanjuti kenaikan itu pada bulan Oktober.

Kendati demikian, angka pertumbuhan itu masih menutupi kelemahan dalam ekonomi, karena sebagian besar ekspansi disebabkan oleh impor yang turun lebih cepat ketimbang ekspor, sehingga mengakibatkan ekspor neto mendorong ekonomi secara teknis.

Meski angka PDB terus menunjukkan pertumbuhan pada kuartal pertama, prospeknya telah memburuk sejak ketegangan perdagangan antara AS dan China bereskalasi tajam pada awal Mei.

"Ke depannya, stimulus fiskal dan konsumsi menit terakhir jelang kenaikan pajak penjualan pada Oktober kemungkinan akan mendukung pertumbuhan moderat pada kuartal II dan III,” ujar Ekonom Bloomberg Yuki Masujima.

“Tetapi ada risiko pada sisi negatifnya. Perang perdagangan AS-China mengancam akan mengurangi ekspor. Sentimen penghindaran risiko juga bisa mengangkat yen sehingga memotong daya saing Jepang dan meredam inflasi,” lanjut Masujima.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi jepang

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top