Mengapa Swasta Ogah Investasi di Sektor Pangan? Ini Jawaban Darmin Nasution

Pemerintah mengakui bahwa intervensi yang dilakukan di sektor pangan, khususnya terkait dengan upaya menjaga stabilitas harga, menjadi pemicu pihak swasta enggan berinvestasi di sektor ini.
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 05 Juni 2019  |  17:25 WIB
Mengapa Swasta Ogah Investasi di Sektor Pangan? Ini Jawaban Darmin Nasution
Aktivitas pedagang dan konsumen di pasar tradisional, Peunayong, Banda Aceh, Aceh, Jumat (11/1/2019). - ANTARA/Irwansyah Putra

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah mengakui bahwa intervensi yang dilakukan di sektor pangan, khususnya terkait dengan upaya menjaga stabilitas harga, menjadi pemicu pihak swasta enggan berinvestasi di sektor ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Darmin Nasution di rumah dinasnya, di sela-sela kegiatannya menjamu tamu pada acara open house Idul Fitri, Rabu (5/6/2019).

“Memang karena kita [pemerintah] banyak mengintervensi pasar pangan, investor swasta itu agak menahan diri," ujarnya.

Dia menilai ada satu hal krusial yang belum benar-benar bisa diatasi dalam sistem rantai pasok pangan Indonesia, yakni logistik.

Belum terselesaikannya isu ini sedikit banyak juga dipengaruhi oleh kultur rakyat yang lebih menyukai bahan pangan segar dibandingkan dengan bahan pangan yang telah diproses.

“Kita sebenarnya di pangan, yang belum kita selesaikan adalah penyelesaian secara lebih permanen supaya jangan giliran panen harganya jatuh, giliran enggak panen atau peceklik, harganya naik," imbuhnya.

Tadinya, kata Darmin, masalah naik turunnya harga ketika musim panen dan paceklik bisa diselesaikan dengan memproses bahan pangan yang dihasilkan pada waktu panen seperti mengolah cabai segar menjadi cabai bubuk, membekukan daging sapi, dan lain-lain.

Bahan-bahan ini kemudian biaa disimpan untuk jangka waktu lama dan didistribusikan secara cukup dan perlahan sehingga harga pada musim panen serta paceklik bisa terjaga dan ketersediaan bahan pangan pun bisa lebih berkelanjutan.

Namun, kebiasaan mengonsumsi bahan pangan segar yang sudah mendarah daging di masyarakat membuat strategi ini tak bisa diandalkan. Oleh karena itu, menurut Darmin, pemanfaatan gudang- gudang berteknologi menjadi jalan keluar lainnya.

Kendati tak memberi rincian, Darmin menyebutkan pemanfaatan gudang ini masih lebih murah dari sisi biaya dibandingkan dengan gudang berpendingin.

"Solusi sekarang ini yang lebih terbayangkan, bukan memrosesnya menjadi cabe botol, tetapi membuat gudangnya yang kemudian atmosfernya itu diatur. Itu tidak semahal kalau gudangnya pakai pendingin segala macam," tambahnya.

Menurut Darmin, pemanfaatan gudang ini memang sudah dimulai di Indonesia, tetapi masih perlu diperbanyak.

Gudang-gudang ini bisa menjadi solusi untuk masalah ketersediaan sejumlah bahan pangan uatamanya seperti beras, bawang, dan cabai.

"Yang sudah ada itu adalah untuk bawang. Bawang itu, kalau disimpan di gudang itu bisa tahan mendekati 6 bulan. Itu sudah cukup untuk masuk ke periode pacekliknya. Waktu masuk pacekliknya dia dijual. Namun, ini belum cukup banyak gudangnya," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pangan, harga pangan

Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top