Interkoneksi Kelistrikan Sumatra Beroperasi pada 2022

Sistem interkoneksi kelistrikan di Sumatra baru dapat beroperasi penuh apabila tranmisi 500 kilovolt sudah rampung dikerjakan pada 2022.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 28 Mei 2019  |  08:45 WIB
Interkoneksi Kelistrikan Sumatra Beroperasi pada 2022
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Sistem interkoneksi kelistrikan di Sumatra baru dapat beroperasi penuh apabila tranmisi 500 kilovolt sudah rampung dikerjakan pada 2022.

Saat ini, sistem interkoneksi kelistrikan di Sumatra yang dikerjakan adalah pengerjaan tol listrik Sumatra tahap I yang berupa Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kiloVolt (kV).

Tol listrik Sumatra tahap I dipastikan rampung pada 2019. Meskipun rampung, sistem kelistrikan dinilai masih terdapat potensi keterbatasan transfer.

Berdasarkan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) 2019—2028, interkoneksi baru dapat beroperasi dengan penuh apabila transmisi 500 kV yang merupakan proyek tol listrik tahap II sudah beroperasi pada 2022.

Pembangunan infrastruktur kelistrikan di Sumatra memang dibagi dalam dua tahap. Pertama, jalur Lahat—Sarulla—Pangkalan Susu dengan panjang 3.765 kilometersirkit yang akan operasi pada semester I/2019. Kedua, jalur Lahat—Lampung & Pangkalan Susu—Sigli—Ulèe Kareng direncanakan beroperasi akhir 2022.

Vice President Public Relation PLN Dwi Suryo Abdullah mengatakan bahwa infrastruktur ketenagalistrikan ini dinilai akan menjadi tulang punggung penyaluran energi listrik dari sistem Sumatra bagian selatan menuju Sumatra bagian utara atau sebaliknya. Hingga pertengahan Mei 2019, PLN tinggal menyelesaikan tujuh menara (tower), pembersihan jalur transmisi 10 menara dan menarik kawat penghantar 275 kV sekitar 100 menara yang semua itu berada di antara jalur Sarulla—Simangkuk yang semua itu ditargetkan selesai akhir Juni 2019. Nantinya jika jalur Sarulla–Simangkuk selesai, transmisi 275 kV Lahat—Binjai/Pangkalan Susu akan terhubung.

Dwi Suryo mengakui, proyek Tol listrik Sumatra tahap I seharusnya rampung pada April 2019. Namun, lantaran kendala cuaca yang setiap hari terjadi hujan menyulitkan proses pembangunan.

“Tinggal jalur Sarulla—Simangkung terkendala karena hampir tiap hari hujan sehingga membutuhkan waktu tersendiri,” katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

Menurutnya, kondisi geografis cukup menyulitkan pembangunan tol listrik Sumatra. PLN melakukan melakukan pembangunan mulai dari proses perizinan, survei lokasi tapak tower, sampling uji tanah, penyusunan desain gambar hingga pembebasan lahan tapak tower di sepanjang jalur transmisi dari Lampung hingga Aceh. Kondisi geografis yang beraneka ragam mulai tanah datar, perkebunan, pertanian, kawasan hutan, perbukitan, lembah cukup menyulitkan dalam pengerjaan pembangunan pondasi tapak tower, perakitan tower hingga pembebasan jalur kawat transmisi dan penarikan transmisi SUTET 275 kV.

“Kendala utama yang dihadapi di lapangan selain pembebasan lahan tapak tower juga terkendala membawa material baik untuk pembangunan fondasi maupun untuk pemasangan tower karena akses untuk mencapai lokasi masih banyak dilalui dengan jalan kaki. Selain itu, juga cuaca yang sering turun hujan terutama di daerah yang curah hujannya tinggi seperti jalur Sarulla—Simangkuk sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumatra, kelistrikan

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top