Intervensi Produksi Daging Ayam Belum Berhasil Angkat Harga

Intervensi pemerintah untuk menekan produksi ayam pedaging pada Maret-April 2019 demi memperbaiki harga yang sempat jatuh di tingkat peternak belum berdampak signifikan, termasuk selama momen Ramadan saat permintaan biasanya cenderung tinggi.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 27 Mei 2019  |  07:59 WIB
Intervensi Produksi Daging Ayam Belum Berhasil Angkat Harga
Pedagang memotong daging ayam di lapaknya di Pasar Kosambi Bandung, Jawa Barat, Selasa (16/1). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Intervensi pemerintah untuk menekan produksi ayam pedaging pada Maret-April 2019 demi memperbaiki harga yang sempat jatuh di tingkat peternak belum berdampak signifikan, termasuk selama momen Ramadan saat permintaan biasanya cenderung tinggi.

Kementerian Pertanian menerbitkan imbauan bagi perusahaan pembibitan ayam pedaging (broiler) untuk mengurangi produksi selama periode 21 Maret—8 April 2019. Imbauan yang termaktub dalam Surat Edaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian No. 03124SE/PK.010/F/03/2109 tersebut terbit pada 19 Maret 2019 dan ditujukan pada 41 perusahaaan.

Dalam surat tersebut, Kementan mengharapkan seluruh perusahaan pembibitan di Pulau Jawa dan Sumatera untuk mengurangi produksi ayam umur sehari (Day Old Final Stock/DOC FS) broiler melalui penarikan telur tetas dan pengurangan telur di tempat pembenihan (hatchery) pada umur 18 hari sebanyak 10% per minggu.

Langkah intervensi ini merupakan respons Kementan dalam menghadapi penurunan permintaan ayam ras hidup (live bird) selama Maret—April 2019. Penerbitan surat edaran ini pun dilakukan untuk memperbaiki harga ayam di tingkat peternak yang selama kuartal I/2019 tergerus di bawah harga ketetapan sebesar Rp20.000 per kg sampai Rp22.000 per kg.

“Kemarin pada awal bulan sampai pertengahan bulan kan harga itu kami sudah memprediksi kan sebelumnya [akan rendah]. Jadi kami minta pengurangan. Ternyata pengurangan itu tidak efektif juga karena daya beli [pedagang] kurang dari Rp20.000,” ujar Ketua Himpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Singgih Januratmoko kepada Bisnis, Jumat (24/5).

Meski harga daging ayam sempat menyentuh harga yang jauh di bawah harga pokok produksi (HPP), Singgih mengaku kenaikan mulai terjadi memasuki pekan terakhir Ramadan. Harga beli di tingkat peternak yang sebelumnya sempat berada di angka Rp14.000/kg ayam hidup disebut Singgih kini berada di kisaran Rp18.500/kg.

“Kemarin terakhir di sekitar harga paling murah Rp14.000, tapi sekarang mulai naik karena sudah mendekati Lebaran. Alhamdulillah sudah di HPP kita di Rp18.500,” ujar Singgih.

Dampak yang dinilai tak terlalu signifikan dari pemberlakuan imbaun ini pun dirasakan oleh Gabungan Pengusaha Pembibitan Unggas (GPPU). Hal ini terlihat dari harga ayam potong yang stabil di bawah nilai ketetapan meski telah memasuki Ramadan.

“Yang saya tahu, para pembibit melaksanakan imbauan dari surat itu, tapi apakah 100% [dipatuhi] saya tidak bisa konfirmasi, karena itu di bawah ranah mereka. Namun, dari sisi harga dan suplai menjelang puasa dan dua minggu Ramadan itu harga malah hancur,” kata Ketua Umum GPPU Achmad Dawami.

Sementara itu, Achmad menilai mulai membaiknya harga ayam saat ini tak lepas dari daya beli di tingkat konsumen yang meningkat pada 10 hari terakhir Ramadan.

“Masuk minggu ketiga menuju minggu keempat, mula terasa setelah ada permintaan karena THR [tunjangan hari raya] cair. Di situlah saya menganggap efek dari kebijakan[intervensi DOC] itu ada, tapi tidak signifikan,” kata Achmad.

Di sisi lain, kendati harga berangsur membaik, Singgih mengaku peternak masih dibayangi ketidakpastian soal permintaan. Dia mengatakan sebagian peternak memilih mengurangi produksi untuk musim panen usai perayaan Idulfitri.

“Mulai bulan ini dikurangi untuk panen setelah Lebaran, karena memang belum tahu setelah Lebaran nanti bagaimana permintaannya. Apakah konsumen kuat dengan harga di tingkat HPP atau tidak,” ujar Singgih.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
daging ayam

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top