Penyebab Ekonomi Nasional Belum Terakselerasi

Performa yang demikian menyebabkan peranan ekspor bersih terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Triwulan I/2019 masih negatif sebesar 0,26 persen.
Abdul Manap Pulungan, Peneliti Indef
Abdul Manap Pulungan, Peneliti Indef - Bisnis.com 24 Mei 2019  |  11:09 WIB
Penyebab Ekonomi Nasional Belum Terakselerasi
Foto udara menara Mercusuar Willem III di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Senin (25/3/2019). - ANTARA/Aji Styawan

Gejolak ekonomi global sepanjang 2018 berlanjut ke 2019. Tekanan cukup nyata berasal dari perang dagang serta kenaikan harga minyak dunia.

Baru-baru ini Presiden Amerika Serikat Donald Trump menaikkan tarif impor beberapa barang China menjadi 25 persen, dari semula 10 persen. Trump juga menjadi pemicu kenaikan harga minyak dunia, lewat embargo minyak Iran.

Presiden Amerika Sekitar tersebut meminta seluruh negara di dunia untuk menghentikan pembelian minyak Iran, sebagai sanksi ekonomi.

Melihat berbagai perkembangan di atas, prospek ekonomi dunia belumlah membaik. International Monetary Fund (IMF) pada April lalu mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia, menjadi 3,3 persen pada 2019 (turun dari 0,2 persen dari rilis Januari 2019).

Pertumbuhan negara-negara maju turun menjadi 1,8 persen. Pertumbuhan negara dan pasar berkembang turun menjadi 4,4 persen. Lalu lintas perdagangan dunia turun dari 4 persen menjadi 3,4 persen.

Salah satu tekanan eksternal yang mulai berkurang adalah keputusan the Fed menahan suku bunga acuannya. Hal itu diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi AS. Presiden Trump mengkritik kenaikan suku bunga, sehingga menyebabkan kebijakan-kebijakan pemerintah (misalnya pemotong pajak) tidak berpengaruh nyata bagi perekonomian. Hal tersebut dikarenakan kenaikan suku bunga menyebabkan biaya berusaha semakin mahal.

Transmisi gejolak global terekam dari beberapa indikator ekonomi domestik. Neraca perdagangan belum mampu mencetak surplus, karena menganganya defisit neraca migas. Memang, dibandingkan Triwulan I/2018 (minus US$2,73 miliar), defisit neraca migas pada Triwulan I/2019 turun cukup besar, menjadi US$1,34 miliar.

Defisit neraca perdagangan juga disebabkan oleh penurunan ekspor nonmigas (sebagai penopang ekspor nasional). Pada Triwulan I/2019, nilai ekspor nonmigas terkoreksi hingga 7,8 persen (yoy), yang menyebabkan nilai total ekspor turun hingga 8,5 persen (yoy).

Performa yang demikian menyebabkan peranan ekspor bersih terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Triwulan I/2019 masih negatif sebesar 0,26 persen.

Ada tiga penyebab belum tingginya pertumbuhan ekonomi Triwulan I/2019. Pertama, kenaikan harga tiket pesawat domestik yang berdampak signifikan pada beberapa variabel makroekonomi seperti inflasi, bisnis pariwisata serta sektor penyedia akamodasi dan makan minum.

Pada April 2018, inflasi sektor transportasi (tergabung pada transpor, komunikasi, jasa keuangan) hanya 1,75 persen (yoy), naik menjadi 3,22 persen (yoy) pada April 2019. Lonjakan inflasi sektor tersebut mulai terjadi Triwulan IV/2018. Pada Oktober, inflasi transpor, komunikasi, dan jasa keuangan mencapai 2,14 persen (yoy), naik menjadi 2,62 persen (yoy), dan selanjutnya 3,16 persen (yoy) pada November dan Desember.

Sepanjang Januari-September 2018, rata-rata inflasi transpor, komunikasi, jasa keuangan hanya 1,67 persen (yoy) per bulan. Inflasi sektor transportasi berdampak pada penurunan pertumbuhan subsektor transportasi dan pengangkutan pada PDB Triwulan I/2019.

Secara triwulanan, PDB subsektor transportasi terkoreksi 0,56 persen, turun dari 0,2 persen pada Triwulan IV/2018. Secara tahunan sektor tersebut hanya tumbuh 5,25 persen (yoy) pada Triwulan I/2019, dari posisi 5,34 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya. Pertumbuhan subsektor angkutan udara turun hingga 10,15 persen (yoy) sepanjang Triwulan I/2019.

Rilis BPS menunjukkan bahwa pada Triwulan I/2019, jumlah penumpang angkutan udara domestik turun 17,6 persen (yoy) menjadi 18,32 juta dari 22,34 juta (Triwulan I/2018). Penurunan tertinggi terjadi di Bandara Kualanamu mencapai 30,14 persen (yoy) disusul Bandar Juanda dan Bandara Hasanuddin masing-masing 22,25 persen (yoy) dan 21,45 persen (yoy).

Pada Triwulan I/2018, jumlah penumpang angkutan udara domestik tumbuh sekitar 10  persen (yoy). Lalu lintas penerbangan internasional juga tumbuh melambat menjadi 4,9 persen (yoy) dari 6,4 persen (yoy) pada Triwulan I/2018.

Sementara itu, sektor penyedia akomodasi dan makan minum hanya tumbuh 0,68 persen (qtq) pada Triwulan I/2019, turun dari 1,51 persen (qtq) pada Triwulan IV/2018. Secara tahunan, sektor berbasis konsumsi tersebut hanya tumbuh 5,87 persen (yoy), terkoreksi dari 5,95 persen (yoy). Tingkat Penghunian Kamar (TPK) pada Maret 2019 turun menjadi 52,89 persen dari posisi 57,1 persen (Maret 2018).

Kedua, perlambatan realisasi investasi. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi penanaman modal Triwulan I/2019 tumbuh sebesar 5,3 persen (yoy). Penanaman modal dalam negeri (PMDN) tumbuh sebesar 14,1 persen (yoy) dan penanaman modal asing (PMA) terkoreksi 0,9 persen (yoy). Data yang mengonfirmasi perlambatan investasi terekam dari pertumbuhan pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB) Triwulan I/2019 sebesar 5,01 persen. Pencapaian tersebut lebih rendah dari pertumbuhan PDB (5,07 persen). Jika memerhatikan data BPS, pertumbuhan PMTDB sepanjang Triwulan II/2017 hingga Triwulan IV/2018 lebih tinggi dari pertumbuhan PDB. Pertumbuhan PMTDB yang lebih rendah dari pertumbuhan PDB, menunjukkan bahwa peranan ekonomi produktif semakin rendah.

Ketiga, penurunan pertumbuhan industri pengolahan. Triwulan I/2019, industri pengolahan hanya tumbuh 3,86 persen (yoy) atau turun 0,74 persen dibandingkan Triwulan I/2018. Selain industri batubara dan pengilangan migas, ada 8 industri yang mengalami penurunan pertumbuhan.

Pertumbuhan industri makanan dan minuman turun hingga 6 persen, industri kulit sebesar 6,62 persen, industri kayu sebesar 12,46 persen, industri karet 9,7 persen, industri barang galian bukan logam 10 persen, industri logam dasar 1,4 persen, industri mesin dan perlengkapan serta industri alat angkutan masing-masin turun sebesar 14,21 persen dan 12,39 persen.

FOKUS

Tekanan eksternal dan kompleksitas internal memberikan pengaruh nyata pada pertumbuhan ekonomi Triwulan I/2019. Angka 5,07 persen dapat dikatakan bukan permulaan yang baik untuk mencapai pertumbuhan 5,3 persen pada akhir 2019. Untuk mengejar sisa tiga triwulan ke depan, pemerintah perlu fokus pada beberapa hal.

Pertama, menuntaskan masalah kenaikan harga tiket pesawat pada area-area seperti investigasi struktur industri (cenderung duopoli) dan antisipasi kenaikan harga bahan bakar. Kedua, tetap menjaga inflasi rendah untuk mengelola daya beli, yang menjadi penentu utama pertumbuhan ekonomi.

Ketiga, memastikan terjaganya kinerja industri pengolahan melalui kepastian bahan baku/penolong, akses pembiayaan, hingga jangkauan ekspor. Keempat, pemerintah segera menuntaskan persoalan online single submission (OSS) terutama di daerah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup