OBAT BEBAS, Pertumbuhan Obat Warung Belum Signifikan

Gabungan Pengusaha Farmasi (GP Farmasi) mencatat pertumbuhan obat bebas (over the counter/OTC) mencapai 5%--6% pada kuartal I/2019. Asosiasi menilai pertumbuhan tersebut belum signifikan mengingat peredaran obat OTC masih dibatasi.
OBAT BEBAS, Pertumbuhan Obat Warung Belum Signifikan
Andi M. Arief - Bisnis.com 24 Mei 2019  |  02:00 WIB
OBAT BEBAS, Pertumbuhan Obat Warung Belum Signifikan
Peneliti dari Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuat obat tradisional dari berbagai jenis tumbuhan dan buah-buahan di Laboratorium khusus Pembuatan Obat Tradisional di Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (30/4/2019). Dengan Laboratorium itu, peneliti LIPI telah berhasil menciptakan dan mengembangkan obat-obat tradisional dari berbagai jenis tumbuhan dan buah-buahan yang tadinya obat pahit menjadi obat manis untuk diminum tanpa mengurangi khasiat serta tanpa menggunakan bahan pengawet. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA – Gabungan Pengusaha Farmasi (GP Farmasi) mencatat pertumbuhan obat bebas (over the counter/OTC) mencapai 5%--6% pada kuartal I/2019. Asosiasi menilai pertumbuhan tersebut belum signifikan mengingat peredaran obat OTC masih dibatasi.

Direktur Eksekutif GP Farmasi Dorojatun Sanusi mengatakan bahwa asosiasi mendorong agar peredaran obat-obat OTC dipermudah. Pasalnya, jaringan apotek atau toko obat masih terbatas di daerah-daerah.

Menurut Dorojatun, komposisi obat OTC dalam portofolio produksi obat dalam negeri mencapai 40%.

“Kami mendorong supaya program promotif dan preventif diperluas, itu pakai [obat] OTC. Program Menteri Kesehatan begitu, tapi peraturan-peraturannya tidak berubah. Programnya ada tapi peraturannya tidak mendukung, terutama terhadap peredaran,” paparnya kepada Bisnis, Kamis (23/5/2019).

Pada kuartal II/2019, lanjutnya, asosiasi belum dapat memproyeksi pertumbuhan produksi maupun penjualan obat OTC. Menurutnya, hal tersebut disebabkan belum berakhirnya masa Ramadan. Namun, dia memperkirakan, pertumbuhan penjualan obat OTC akan menurun mengingat konsumen akan mengalihkan pengeluarannya saat Idulfitri.

Di samping itu, Dorojatun menyampaikan, arus kas industri farmasi sekarang tidak menentu akibat program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Dorojatun menghitung piutang industri farmasi yang telah jatuh tempo kini bernilai Rp4 triliun. Adapun, imbuhnya, secara konsolidasi nilai piutang industri farmasi mencapai Rp7 triliun.

“Kalau terus berlanjut, bukan masalah bagaimana [kondisi] neraca perdagangan. Kalau bahan baku tidak bisa beli, kami tidak bisa ekspor,” ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kalbe farma, Industri Obat, PT Hisamitsu Pharma Indonesia

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top