Pakar Jabarkan Skenario Terburuk Perang Dagang terhadap Mata Uang Asing

Ketika retorika perang dagang Amerika Serikat-China meningkat tanpa rencana dimulainya kembali perundingan, sejumlah pakar strategi memetakan implikasinya terhadap nilai tukar mata uang asing.
Renat Sofie Andriani | 22 Mei 2019 11:29 WIB
Mata uang Yen Jepang - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Ketika retorika perang dagang Amerika Serikat-China meningkat tanpa rencana dimulainya kembali perundingan, sejumlah pakar strategi memetakan implikasinya terhadap nilai tukar mata uang asing.

Nilai tukar yen Jepang diperkirakan bakal menguat terhadap dolar AS, dipicu aksi penghindaran investor dari aset-aset berisiko. Di sisi lain, mata uang seperti rand Afrika Selatan dan peso Chili bisa menjadi yang paling terdampak.

“Mungkin ini menjadi salah satu hal yang paling kurang diperhitungkan di pasar, pertanyaan tentang dampak ketegangan perdagangan dan valuta asing,” tutur Thomas Costerg, ekonom di Pictet Wealth Management, seperti dikutip Bloomberg.

Beberapa nilai tukar mata uang di Asia Pasifik telah melihat dampak dari meluasnya perang perdagangan. Nilai tukar won Korea Selatan telah melemah sekitar 4 persen terhadap dolar AS, sementara dolar Australia mendekati level rendahnya pada Januari.

“Taiwan dan Korea Selatan bakal mengalami penurunan terbesar jika segalanya meningkat,“ ujar Richard Franulovich, pakar strategi valas di Westpac, New York.

“Won dan yuan China, bersama dengan dolar Taiwan, Australia, dan Kanada, terekspos. Sementara itu, nilai tukar euro akan turun secara dramatis,” tambahnya.

Sebagai perlindungan, Franulovich menyarankan investor untuk melakukan short pada mata uang tersebut atau memiliki obligasi.

Meski demikian, ia mempertimbangkan pandangan konsensus di pasar bahwa AS dan China pada akhirnya akan mencapai "semacam kesepakatan".

Di Bank of America, tim strateginya berpandangan bahwa investor akan mencari aset lindung nilai (safe haven) tanpa terlihatnya kesepakatan perdagangan AS-China dalam waktu dekat.

“Hampir semua ketidakpastian dan risiko terkait yang dihadapi pasar pada awal tahun bertahan, dan dalam beberapa kasus malah memburuk,” tulis Athanasios Vamvakidis, kepala strategi valas di Bank of America, dalam risetnya.

“Hal tersebut membuat pergerakan valas sangat menantang. Untuk saat ini, kami berpandangan bahwa keadaan bisa menjadi lebih buruk dalam jangka pendek,” lanjutnya.

Zach Pandl, kepala strategi valas global di Goldman Sachs, melihat kemungkinan ketegangan perdagangan akan menjalar ke dalam mata uang termasuk euro, rand Afrika Selatan, dan peso Chili.

“Euro, khususnya, memiliki risiko penurunan, yang akan mengarah lebih rendah dalam jangka pendek menjadi level US$1,10 dari level saat ini di sekitar US$1,1164,” papar Pandl.

Jangan lupa risiko depresiasi yang dihadapi yuan China. Jika China merealisasikan rencana pengenaan tarif pada impor AS bernilai sekitar US$60 miliar mulai 1 Juni, dan AS tidak mencabut tarif 25 persen, akan ada godaan bagi China untuk membiarkan yuan terdepresiasi.

“Bahkan pihak yang optimistis perlu mempertimbangkan skenario risiko yuan mengingat keadaan dan risiko saat ini,” ungkap Vamvakidis.

Dengan fokus saat ini tertuju pada kebuntuan AS-China, perselisihan pemerintahan Presiden AS Donald Trump dengan Eropa dan Jepang mengenai perdagangan mobil telah ditangguhkan. Namun, pengenaan tarif di wilayah itu juga dapat membuka pintu proteksionisme lebar-lebar.

“Bisa morat-marit. Sisi perdagangan pasti akan memiliki dampak terhadap valas, dengan lebih banyak volatilitas di pasar,” tambah Costerg dari Pictet.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top