Produksi Kakao 2019 Diperkirakan Relatif Stagnan

Produksi kakao nasional pada 2019 diharapkan tidak mengalami penurunan atau setidaknya stagnan meski produksi pada kuartal I tahun ini menunjukkan penyusutan signifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Iim Fathimah Timorria | 21 Mei 2019 06:07 WIB
Pekerja memeriksa buah kakao di Sunggal, Deli Serdang, Sumut, Selasa (8/1). - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA—Produksi kakao nasional pada 2019 diharapkan tidak mengalami penurunan atau setidaknya stagnan meski produksi pada kuartal I tahun ini menunjukkan penyusutan signifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang diolah Dewan Kakao Indonesia, penurunan ini tercermin dari jumlah ekspor kakao Januari-Maret 2019 yang turun 63% dibanding periode yang sama pada 2018.

“Produksi bisa tercermin dari ekspor dan impor selama periode ini. Eskpor kakao cenderung turun baik dalam bentuk biji, maupun yang lain. Pada saat yang sama, impor pasta dan lemak meningkat. Kemungkinan karena bahan baku berupa biji dalam negeri kurang meski kita sudah impor,” ungkap Tenaga Ahli Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Dewan Kakao Indonesia, Soetanto Abdoellah kepada Bisnis, Jumat (17/5/2019).

Soetanto menjabarkan selama periode Januari-Maret 2019, Indonesia hanya mampu mengekspor biji kakao sebanyak 3.729 ton, turun 61% dibanding periode Januari-Maret 2018 yang mencapai 6.125 ton. Pada saat yang sama, Indonesia tetap mengimpor 59.110 ton biji kakao.

Seotanto menganalisis penurunan produksi selama kuartal I kali ini bisa saja dipengaruhi beberapa faktor. Misalnya kondisi cuaca saat masa tanam enam bulan lalu yang tak mendukung.

Kendati demikian, Seotanto memprediksi produksi kakao tahun ini setidaknya masih bisa sama dibanding tahun 2018 yang ia sebut mencapai 365.000 ton. Pasalnya, sejumlah daerah sentra produksi kakao baru memasuki musim panen pada Mei-Juni ini.

“Saya memperkirakan produksi kurang lebih masih sama dibanding tahun lalu. Karena masih ada daerah-daerah yang mulai berbuah, seperti Lampung, Gorontalo, dan Kalimantan. Selain itu puncak panen itu biasanya terjadi pada kuartal II dan kuartal IV,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kakao, perkebunan

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top