TARGET EKONOMI 2020: Sektor Konsumsi Jadi Tumpuan

Konsumsi dinilai bisa menjadi sektor yang diandalkan pemerintah untuk merealisasikan target pertumbuhan ekonomi pada 2020 di kisaran 5,3 persen-5,6 persen.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 21 Mei 2019  |  10:36 WIB
TARGET EKONOMI 2020: Sektor Konsumsi Jadi Tumpuan
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) menyerahkan berkas Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020 kepada pimpinan Sidang Paripurna DPR Utut Adianto (kedua kanan), Bambang Soesatyo (kedua kiri) dan Fadli Zon di Gedung Nusantara II Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (20/5/19). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Konsumsi menjadi sektor yang akan diandalkan pemerintah untuk merealisasikan target pertumbuhan ekonomi pada 2020 di kisaran 5,3 persen-5,6 persen.

Secara makro, target tersebut sebenarnya bukan angka baru. Namun pencapaian target masih dianggap terlalu berat, apalagi bantalan yang digunakan untuk mencapai target tersebut masih sangat terbatas.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara memahami bahwa kisaran angka sebenarnya tidak terlalu ambisius, hanya saja risiko di perekonomian masih cukup tinggi.

Namun ada potensi dari sektor konsumsi untuk menopang pertumbuhan tersebut. "Konsumsi itu merupakan komponen utama di PDB kita. Jadi pertumbuhan konsumsi menjadi yang cukup penting," kata Suahasil kepada Bisnis.com, Selasa (21/5/2019).

Suahasil menjelaskan, selain konsumsi pemerintah juga terus mendorong sektor-sektor pertumbuhan yang berkontribusi ke PDB. Investasi misalnya, beberapa paket kebijakan yang bakal diterbitkan pemerintah akan mendorong pertumbuhan di sektor investasi.

Indikasi dari kebangkitan investasi tersebut didukung oleh perbaikan kepercayaan para pelaku usaha usai pemilihan presiden (pilpres) dan momentum pertumbuhan yang masih bisa dipertahankan.

"Mereka tahu bahwa pemerintah menjaga pertumbuhan, misalnya dengan pemberlakuan kebijakan anggaran yang counter cyclical," imbuhnya.

Pemberlakuan kebijakan tersebut diterapkan untuk menjaga pertumbuhan, sehingga ketika terjadi pelambatan ekonomi, APBN nantinya akan menstimulasi ekonomi dengan menggenjot belanja meskipun ada risiko pelambatan penerimaan dan pelebaran defisit.

"Belanja lebih banyak, kalau ada kebijakan siklus anggaran itu, mudah-mudahan bisa menjaga kepercayaan pelaku bisnis," ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
apbn, rapbn

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup