Tren Wisata ke Luar Negeri Hisap Devisa ke Luar Negeri

Destinasi outbound terdekat yang tiketnya terjangkau oleh wisnas Indonesia a.l. Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 21 Mei 2019  |  16:09 WIB
Tren Wisata ke Luar Negeri Hisap Devisa ke Luar Negeri
Pemandangan Teluk Maya di Pulau Phi Phi, Thailand sebelum ditutup oleh pemerintah setempat pada 2018. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Wisatawan nasional ramai-ramai memilih pergi ke luar negeri daripada ke destinasi wisata lokal karena harga tiket pesawat mahal. Tren ini merugikan Indonesia karena menghisap devisa ke negara lain.

Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azahari menuturkan, di tengah permasalahan akses destinasi wisata di Indonesia yang mahal dan tak terjangkau, agen perjalanan menuai berkah tersendiri.

Menurutnya, sepanjang kuartal I/2019 terjadi kenaikan wisnas outbound sebesar 5% hingga 8%. Hal ini dikarenakan harga tiket berwisata ke luar negeri lebih murah dibandingkan dengan domestik. “Memang trennya tahun ini, wisatawan nasional lebih memilih untuk ke luar negeri,” tuturnya.

Dia memaparkan, apabila permasalahan harga tiket ini tak ada jalan keluar yang terbaik bagi maskapai dan wisatawan, devisa yang diperoleh Indonesia sedikit karena belanja wisnas di luar negeri lebih besar.

“Pada libur Lebaran dan sekolah yang cukup panjang, mereka yang tak merayakan Idulfitri lebih memilih ke luar negeri. Ya, kenaikannya sekitar 10% dari Lebaran tahun lalu. Lebaran tahun lalu, wisnas outbound tumbuh 5%. Ini memang harus ada cara agar tak banyak yang keluar negeri,” terang Azril.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menuturkan, jika melihat harga tiket domestik yang mahal, ada kecenderungan masyarakat kelas menengah dan atas mengalihkan rencana liburan ke luar negeri. Destinasi outbound terdekat yang tiketnya terjangkau oleh wisnas Indonesia a.l. Singapura, Malaysia, dan Thailand.

“Indikator lain potensi terjadinya outbound bisa dilihat dari okupansi hotel semua bintang pada Maret 2019 menurun menjadi 52,8% lebih rendah dari tahun sebelumnya 57,1%,” katanya.

Menurutnya, wisatawan akan rasional memilih apakah memaksa mudik meski mahal atau lebih baik liburan ke luar negeri.

“Untuk yang tinggal di Jawa akan memilih berwisata lewat darat, tetapi untuk luar Jawa khususnya Sumatra bagian utara mungkin punya preferensinya ke luar negeri,” ucapnya.

Selain itu, minat masyarakat berwisata ke luar negeri karena beberapa destinasi wisata di dalam negeri kena bencana alam seperti Bali dan Lombok. Lalu, kurs rupiah yang relatif lebih stabil dibandingkan dengan 2018 juga berpengaruh. Hal ini mengindikasikan daya beli wisatawan Indonesia di luar negeri menguat.

“Saya kira pada Lebaran dan libur sekolah tahun ini akan terjadi peningkatan jumlah wisnas yang keluar negeri sebesar 8% hingga 9%,” ujar Bhima.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wisatawan

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top