Revitalisasi Pabrik Jadi Solusi Dorong Produksi Gula

Revitalisasi pabrik gula (PG) dianggap sebagai solusi jitu untuk menjawab masalah kebutuhan gula Tanah Air. Langkah ini dinilai efisien  di samping rencana pemerintah untuk memperluas area tebu di luar Pulau Jawa.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 20 Mei 2019  |  09:19 WIB
Revitalisasi Pabrik Jadi Solusi Dorong Produksi Gula
Pabrik Gula - Antara

Bisnis.com, JAKARTA— Revitalisasi pabrik gula (PG) dianggap sebagai solusi jitu untuk menjawab masalah kebutuhan gula Tanah Air. Langkah ini dinilai efisien  di samping rencana pemerintah untuk memperluas area tebu di luar Pulau Jawa.

Peneliti Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian Agus Pakpahan mengungkapkan revitalisasi pabrik yang dijalankan dengan tepat dapat memberikan hasil yang efisien, produktif, sekaligus menunjukkan perkembangan.

Ia mencontohkan program pengembangan pada PT Kebon Agung (PPKA) yang mampu meningkatkan kapasitas giling dari 7.872,20 ton tebu/hari pada 2004 menjadi 9.605, 40 ton tebu/hari pada 2007 ketika PPKA tahap I berakhir. Kapasitas giling pun meningkat pada tahap kedua PPKA yang berakhir pada 2012. Saat itu, PT Kebon Agung bisa melakukan penggilingan sampai 14.686 ton tebu/hari.

Peningkatan kapasitas giling ini berdampak pada produksi gula secara keseluruhan. Jika sepanjang 2004 PT Kebon Agung hanya memproduksi 92.100 ton gula, pada tahun 2012 produksi meningkat hampir dua kali lipat di angka 177.000 ton. Peningkatan ini turut dipengaruhi dengan perluasan area tanam dari 19.281 hektare pada 2004 menjadi 31.698 hektare pada 2012.

“Hasil PG Kebon Agungmemperlihatkan revitalisasi yang dijalankan dengan benar, hasilnya akan efisien, produktif, dan berkembang. Jika hal ini dilakukanpada 62 pabrik gula di Pulau Jawa, kita bisa lebih dari swasembada,”ungkap Agus di Jakarta, Kamis (16/5/2019). Ia merujuk pada target swasembada gula yang diharapkan dapat dicapai pada 2024.

Dorongan untuk mengedepankan revitalisasi pabrik gula pun disuarakan oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPD APTRI) PG Kebon Agung, Dwi Irianto. Ia menyatakan peningkatan produksi hanya bisa dicapai jika rendemen mencapai 10 persen dengan produktivitas mencapai 1.000 kuintal/hektare.

“Produktivitas kita sekarang di kisaran 800 kuintal/hektare dan rendemennya sekitar 7,5 persen. Kita mampu bersaing dan menambah produktivitas gula jika produksi mencapai 1.000 kuintal/hektare dan rendemen 10 persen,” ujar Dwi.

Dwi pun menjelaskan lewat peningkatan produktivitas tersebut, gula dalam negeri dapat dijual dengan harga pembelian pemerintah (HPP) di kisaran Rp6.000,00 sampai Rp7.000,00 sehingga bisa bersaing dengan gula impor

Industri gula Tanah Air memang harus menghadapi target produksi 2,45 juta ton pada 2019 di tengah tren penurunan produksi dan penyusutan lahan dalam empat tahun terakhir.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, produksi gula nasional turun dari 2,57 juta ton pada 2014 menjadi 2,19 juta ton pada 2017. Padahal pada tahun tersebut, kebutuhan gula rumah tangga mencapai 2,8 juta ton. Penurunan produksi diikuti pula dengan penyusutan luas area tebu dari 472.676 hektare pada 2014 menjadi 420.146 juta hektare pada 2017.

Sementara itu, Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Agus Wahyudimengungkapkan bahwa program revitalisasi sendiri sudah berjalan secara parsial di sejumlah lokasi. Ia mencontohkan revitaliasi di PG Asembagus di Jawa Timur, serta PG Sragi, Pangkah, dan Mojo di Jawa Tengah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gula, pabrik gula

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top