Produksi Gula Berpotensi Terkoreksi

Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia memproyeksikan produksi gula nasional pada tahun ini bisa di bawah 2,2 juta ton jika petani memanen tebunya lebih awal yang menyebabkan penurunan produktivitas.
Pandu Gumilar | 17 Mei 2019 09:46 WIB
Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia memproyeksikan produksi gula nasional pada tahun ini bisa di bawah 2,2 juta ton jika petani memanen tebunya lebih awal yang menyebabkan penurunan produktivitas.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil mengatakan bahwa banyak petani tebu yang mulai memanen tebu pada pertengahan Mei. Dia mengkhawatirkan tanaman tebu yang dipanen tersebut sebenarnya masih belum matang.

Menurutnya, tebu yang dipanen tersebut baru berumur 10 bulan, sedangkan usia normal panen minimal 11 bulan. “Sekarang baru 10 bulan ditebang, seharusnya itu dipanen setelah 12 bulan. Satu petani panen [usia tebu] 10 bulan, petani yang lain juga ikut. Secara berantai semua panen umurnya 10 bulan meski belum cukup usia,” katanya kepada Bisnis, Kamis (16/5).

Arum menjelaskan bahwa petani banyak yang memanen lebih awal karena khawatir pabrik gula tidak menyerap tebu mereka. Di sisi lain, pabrik pun berebut untuk menyerap tebu petani karena takut ada kapasitas tidak terpakai selama musim giling. Selama tebu memenuhi persyaratan seperti bersih dan segar, tebu diterima meski belum berusia matang.

Menurutnya, harus ada solusi untuk menyelesaikan persaingan tidak sehat yang tengah berkembang tersebut. Pasalnya, panen tebu belum cukup usia sama dengan membuang gula karena rendemen belum optimal sudah digiling.

“Tanpa disadari banyak gula dibuang karena rendemen belum maksimal. Jangan-jangan kami pintar urusan pertanian tebu dan pabrik gula, tetapi juga dungu karena sudah tahu belum matang, tetapi ditebang,” katanya.

Arum memperkirakan, bila situasi terus berjalan produksi gula nasional bisa lebih rendah daripada tahun lalu yakni 2,2 juta ton. Kalau mau mengantisipasi penurunan produksi, lanjutnya, masih belum terlambat asal pemanenan dini segera dihentikan.

“Seharusnya semua kompak dan jangan jalan sendiri. Mei ini masih banyak yang belum optimal [tetapi digiling] kalau masuk awal Juni tebu sudah cenderung matang,” imbuhnya.

Sebagian besar pabrik gula yang sudah menggiling tebu berada di Jawa Timur seperti Pabrik Gula Semboro dan Kebon Agung.

Selain itu, untuk musim giling 2019, katanya, mayoritas pabrik gula sudah menggunakan skema pembelian tebu (SPT). Harga minimal yang ditetapkan untuk pembelian adalah Rp51.000 per kuintal, tetapi banyak pabrik yang membeli di atas harga tersebut.

Di sisi lain, Arum juga menyoroti kinerja pabrik gula yang sudah selesai direvitalisasi. Menurutnya, beberapa pabrik yang rendemennya menjadi lebih rendah dari 5% meskipun sudah direvitalisasi. “Rendemen di bawah pabrik gula lama yaitu 5%. Tidak efisien karena bisa saja komponen mesin tidak sesuai spesifikasi,” pungkasnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gula, tebu

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup