Perang Tarif Gerus Konsumsi Masyarakat

Tarif yang tinggi akan memangkas margin laba sehingga berdampak pada naiknya harga jual produk. Ujungnya, permintaan di pasar akan menurun.
Nirmala Aninda | 16 Mei 2019 15:38 WIB
Skenario ekspor ke Amerika Serikat. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA - Laporan International Monetary Fund (IMF) yang dirilis pada April lalu telah memperingatkan dampak proteksionisme terhadap ekonomi global yang diperkirakan bergerak pada laju terlamban tahun ini sejak krisis finansial terakhir.

Tarif yang tinggi akan memangkas margin laba sehingga berdampak pada naiknya harga jual produk. Ujungnya, permintaan di pasar akan menurun.

Laporan tersebut menguatkan kekhawatiran pelaku pasar dan ekonom mengenai perlambatan ekonomi global yang terdampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Di sisi lain, indeks Indikator Utama Komposit (CLI) OECD, yang dirancang untuk mengantisipasi titik balik 6-9 bulan sebelum perubahan kondisi ekonomi terjadi, dilaporkan turun selama 12 bulan berturut-turut pada Maret ke level terendah sejak 2009.

Dalam sebuah studi baru, Bloomberg Economics menghitung sekitar 1 persen dari kegiatan ekonomi global dipertaruhkan dalam barang dan jasa yang diperdagangkan antara AS dan China.

Hampir 4 persen dari output China diekspor ke AS dan tekanan yang ditujukan pada manufaktur negeri bambu tersebut akan menciptakan dampak berantai melalui rantai pasokan regional dengan Taiwan dan Korea Selatan menjadi yang paling berisiko.

Pengiriman AS ke China lebih terbatas, meskipun 5,1 persen dari produksi pertaniannya mengarah ke timur seperti halnya 3,3 persen dari barang-barang manufakturnya.

“Tarif yang lebih tinggi akan berarti margin yang lebih rendah untuk produsen dan harga yang lebih tinggi untuk konsumen dan pada saatnya akan mengurangi permintaan. Ini akan menciptakan gangguan luas di sepanjang rantai pasokan," ujar ekonom Bloomberg, Maeva Cousin dikutip Kamis (16/5/2019).

Banyak ekonom masih bertaruh bahwa AS dan China pada akhirnya akan mencapai kesepakatan, kemungkinan pada KTT G20 bulan depan, ketika Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu.

Perang dagang akan memperparah pelemahan yang ada dalam pertumbuhan global, dan menambah masalah, seperti pelemahan permintaan produk teknologi dan mobil, khususnya di China. Bagi korporasi, itu berarti visibilitas tentang prospek global menjadi lebih rendah.

Produsen chip raksasa AS, Intel Corp, mengambil prospek bisnis yang lebih hati-hati tahun ini. Sementara pembuat minuman asal Italia, Davide Campari-Milano SpA bulan ini mengamati ketidakpastian pada lingkup geopolitik dan makro ekonomi.

"Ekonomi dunia telah mengalami pelambatan yang signifikan dalam satu periode. Orang-orang harus bangun dan sadar, lihat data perdagangan," kata James Bevan, kepala investasi di CCLA Investment Management.

Bagi bank sentral, prospek yang semakin suram kemungkinan akan mendorong mereka menjadi lebih dovish setelah The Fed mencetuskan bahwa adanya indikasi suku bunga akan ditahan untuk sementara waktu.

Dalam skenario terburuk di mana ketegangan bertahan hingga tiga bulan ke depan dan lebih banyak tarif yang akan diberlakukan, ekonom Morgan Stanley berpendapat China akan melonggarkan kebijakan fiskal dengan setara dengan 0,5 poin persentase dari produk domestik bruto (PDB) dan mencoba untuk mendorong pertumbuhan kredit.

Adapun The Fed diperkirakan akan memotong acuannya sekitar 50 basis poin di awal.

"Jika kenaikan tarif meningkat, itu akan menjadi hambatan yang cukup berarti pada ekonomi global dan mengancam peluang ekspansi," kata ekonom global JPMorgan Chase & Co. Joseph Lupton.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup