Mudik, Kemewahan yang Tak Semua Orang Bisa Dapatkan

Tak jarang karena alasan tertentu ada saja warga masyarakat yang tidak dapat melakukan ritual tahunan tersebut.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 15 Mei 2019  |  14:17 WIB
Mudik, Kemewahan yang Tak Semua Orang Bisa Dapatkan
Ilustrasi - Pemudik dengan KA Mata Remaja asal Malang berjalan keluar saat tiba di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Minggu (2/7). - ANTARA/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA - Ternyata, tidak semua masyarakat Indonesia dapat menikmati indahnya bersilaturahim dengan keluarga di kampung halaman saat musim mudik Lebaran. Tak jarang karena alasan tertentu ada saja warga masyarakat yang tidak dapat melakukan ritual tahunan tersebut.

 

Namun, yang patut disayangkan adalah pilihan untuk tidak mudik yang terjadi karena alasan teknis seperti tidak adanya akses menuju kampung halaman. Ya, alasan seperti ini masih dirasakan oleh para penyandang disabilitas.

 

Koordinator Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) 2019 Catur Sigit Nugroho menuturkan, meski keberadaan tol dapat memperlancar mudik Lebaran 2019 kali ini, tetapi masih ada catatan penting yang perlu diperhatikan, yakni transportasi penunjang ketika sampai di lokasi tertentu.

 

Pasalnya, pemudik disabilitas umumnya masih menghadapi keterputusan akses transportasi yang menyebabkan mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk sampai tujuan.

 

“Sampai sekarang di catatan penyelenggara MRAD, masih ada disabilitas yang belum bisa mudik, karena berbagai sebab, terutama akses transportasi sampai tujuan,” tuturnya dalam keterangan pers, Rabu (15/5/2019).

 

Fasilitas ramah disabilitas memang masih menjadi barang langka terutama pada transportasi umum di daerah. Program MRAD yang dijalankannya sudah berjalan selama  4 tahun, dengan operasional dibantu BUMN seperti pengadaan 2 Bus ¾.

Pada tahun ini, salah satu BUMN, yakni PT Bank Syariah Mandiri (BSM) direncanakan memberangkatkan 25 bus reguler, 2 unit bus ¾ akses PD dan 1 Mobil akses PD jenis HIACE  dengan tujuan Pulau Jawa dan Pulau Sumatra dengan tujuan akhir Lampung dan Palembang.

 

“Dari pengalaman penyelenggaraan program dari tahun ke tahun para pemudik mengalami jarak tempuh yang makin baik, meski dengan beberapa catatan. Bagi para pemudik disabilitas kenyamanan, keselamatan, kemudahan dan kemandirian menjadi tolak ukur kenyamanan mudik setiap tahunnya, artinya kualitas layanan disabilitas juga menjadi keramahan untuk semua,” jelasnya.

 

Pada 2016 satu unit mobil Akses Penyandang Disabilitas (PD) jenis HIACE menempuh 32 jam sampai Solo, pada 2017 dua unit Mobil Akses PD jenis HIACE menempuh waktu lebih cepat sekitar 12 jam dan pada 2018 2 unit Bus ¾ Akses PD dan 1 unit Mobil Akses PD HIACE lebih baik lagi.

 

Hanya pada 2016, saat kejadian Brexit (Brebes Exit) menjadi pengalaman yang sangat memprihatinkan. “Karena panitia mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan yang penting dan mendesak di dalam Mobil, sehingga dapat mencegah peristiwa yang tidak diinginkan, disiapkan seperti kasur, obat-obatan, makanan, alat-alat sanitasi dan toilet darurat,” kenangnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Mudik Lebaran, penyandang disabilitas

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top