Aprobi Pastikan Emisi Produksi Biodiesel Berkurang

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia memastikan akan semakin mengurangi emisi gas rumah kaca dari produksi biodiesel lewat menambah metan capture facility.
Ni Putu Eka Wiratmini | 07 Mei 2019 19:02 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia memastikan akan semakin mengurangi emisi gas rumah kaca dari produksi biodiesel lewat menambah metan capture facility.

Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Paulus Tjakrawan mengatakan saat ini baru setidaknya lebih dari 10% pabrik biodiesel di Indonesia telah memasang metan capture facility atau penangkapan gas metana untuk mengurangi emisi yang dihasilkan dari produksi biodiesel. Apalagi alat tersebut dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik.

"Harapan kami bisa lebih cepat dan banyak perusahaan punya metan capture facility," katanya kepada Bisnis, Selasa (7/5/2019).

Sebelumnya, Traction Energy Asia mengklaim perkebunan dan pabrik kelapa sawit memberikan kontribusi emisi gas rumah kaca sebesar 83% hingga 95%.

Ketua tim peneliti di Traction Energy Asia Ricky Amukti mengatakan perubahan penggunaan lahan termasuk didalamnya deforestasi hingga konversi lahan gambut menjadi kelapa sawit menjadi sumber emisi terbesar dari produk biodiesel. Selain sumber emisi lainnya karena distribusi dan limbah pabrik kelapa sawit.

Traction Energy Asia mengakui rantai emisi biodiesel memang dapat dikurangi sebesar 50% sampai 80% dengan pemasangan metan capture facility pada pabrik. Namun, pengurangan emisi terbesar justru dapat dicapai dengan mengurangi peralihan fungsi lahan.

Apalagi, Indonesia yang menarget bauran energi baru terbarukan pada 2025 berarti akan meningkatkan produksi biodiesel dari 6,01 juat kiloliter pada 2018 menjadi 13,8 juta kiloliter pada 2025.

"Ini akan menjadi lompatan yang cukup besar dan akan membutuhkan ekspansi perkebunan dan risiko peralihan fungsi lahan lebih lanjut. Untuk memastikan bahwa produksi biodeisel tidak menyebabkan deforestasi lebih lanjut, memerlukan perbaikan tata kelola hutan yang siginifikan," katanya.

Menurutnya, emisi yang dihasilkan saat produksi biodiesel dibanding diesel tidaklah lebih besar melainkan sebaliknya. Paulus mengatakan penelitian tersebut tidak memperbandingkan emisi yang dihasilkan dari diesel ketika diproses sejak awal. Penelitian ini perlu dicermati lebih baik, antara perbandingan emisi yang dihasilkan dari produksi biodiesel dengan produksi diesel.

"Dalam paparannya tidak menyebutkan emisi biodiesel lebih tinggi karena ada land use change, tapi tidak menyebutkan land use change yang mana apa dari hutan, gambut, atau ladang, jadi statemennya tidak tepat," katanya.

Direktur Eksekutif Traction Energy Tommy Pratama mengatakan biodiesel memang memiliki emisi lebih rendah ketika dibakar. Hanya saja, produksinya juga menyebabkan emisi karbon yang signifikan pada perubahan penggunaan lahan. Peralihan fungsi lahan berarti pengurangan penyerapan karbon yang bisa dilakukan pohon maupun tanaman yang sebelumnya berada dalam ladang tersebut.

Menurutnya, akan menjadi masalah jika biodiesel hanya memastikan energi bersih di hilir. Namun, di hulu atau produksi, justru menghasilkan emisi. Apalagi, menurutnya, baru 11% pabrik biodiesel yang menggunakan metan capture facility untuk mengurangi emisi pada saat produksi.

"Kita hanya fokus biodesel bisa benar-benar bersih dalam mengurangi emisi di Indonesia, dan juga tidak berasal dari kebun sawit yang membuka lahan dari hutan, gambut, maupun ladang warga," katanya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Biodiesel

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup