Ramadan dan Lebaran Tak Berdampak ke Penjualan Properti

Tren properti tak begitu berubah pada musim menjelang bulan puasa dan lebaran. Hal ini berbeda dengan China dan Singapura yang memiliki kepercayaan sendiri, sehingga beberapa hari libur mempengaruhi tingkat pembelian rumah.
Mutiara Nabila | 26 April 2019 06:54 WIB
Deretan rumah tapak di kawasan Padasuka Atas, Bandung, Jawa Barat. - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Tren properti residensial menjelang Ramadan dan Idulfitri tahun ini diperkirakan akan mengalami fluktuasi, terutama karena Idulfitri yang berjarak cukup jauh dengan periode musim masuk sekolah.

Head of Research Savills Indonesia Anton Sitorus mengatakan, untuk tren properti secara umum tidak akan menerima perubahan yang signifikan pada musim menjelang bulan puasa dan lebaran. Hal ini berbeda dengan China dan Singapura yang memiliki kepercayaan sendiri, sehingga beberapa hari libur mempengaruhi tingkat pembelian rumah.

“Di sini [Indonesia] orang lebih memperhatikan kondisi pasar, lagi booming atau lagi bottom, bukan karena mau puasa atau lebaran. Apalagi dengan kondisi sekarang pasar properti kita masih dalam tahap recovery, belum ada kenaikan yang signifikan,” jelasnya kepada Bisnis, Kamis (25/4/2019).

Menurutnya, yang ada pengaruhnya kemungkinan di pusat perbelanjaan. Tunjangan Hari Raya, kata Anton, tidak cukup mendorong aktivitas pembelian properti, tapi pernah terjadi beberapa tahun lalu.

“Pengembang biasanya ambil moment kalau orang mau terima bonus. Itu biasanya di awal tahun, kalau THR kan cuman 1 bulan, buat apa mau beli properti ya nggak segitu besarnya, belum nanti kan ada kewajiban mengangsur, paling belinya handphone,” katanya.

Chief of Marketing & Business Development Riscon Realty Gena Bijaksana sebelumnya mengatakan bahwa secara garis besar pada periode Ramadan dan Idulfitri di Indonesia selalu ada tren bertambahnya pengeluaran uang. Yang menjadi tantangan kemudian adalah apakah pengeluaran tersebut ditujukan ke properti atau tidak.

“Kalau kita lihat dari beberapa tahun ke belakang memang ada sedikit ada perlambatan di awal Ramadan tapi nanti sampai pertengahan dan pascalebaran itu orang mulai justru bergairah sekali, dan itu sebenarnya jadi potensi yang baik untuk menangai periode ini dengan serius,” ungkapnya.

Gena menyebutkan, seminggu sebelum Ramadan hingga seminggu pertama terjadi penurunan penjualan sekitar 20 persen – 25 persen. Pasalnya, pada periode tersebut orang-orang akan memfokuskan pengeluarannya pada hal lain.

Selain itu, terkhusus tahun ini, Ramadan berlangsung bersamaan denga periode pemilihan presiden yang belum selesai, belum diumumkan pemenangnya. Menurutnya, itu menjadi salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
penjualan properti

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup