Pameran Industri Halal MIHAS 2019 Bukukan Penjualan Naik 5,7 Persen

Penyelenggaraan MIHAS (Malaysia International Halal Showcase) pada 3 – 6 April lalu membukukan peningkatan penjualan sebesar 5,7% dibanding tahun lalu.
Mia Chitra Dinisari | 23 April 2019 06:51 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Penyelenggaraan MIHAS (Malaysia International Halal Showcase) pada 3 – 6 April lalu membukukan peningkatan penjualan sebesar 5,7% dibanding tahun lalu.

Peningkatan penjualan meningkat terutama pada 2 komponen utama program MIHAS, yaitu pameran, dan business matching (INSP). Pada program pameran membukukan peningkatan sebesar 8%, sementara pada business matching (INSP) menghasilkan peningkatan sebesar 2.2%.

Angka ini menunjukkan geliat industri halal dunia yang semakin menjanjikan, serta secara khusus mengukuhkan Malaysia sebagai salah satu perintis ekosistem industri halal dari berbagai bidang.

"Kami mengharapkan MIHAS tak hanya menjadi sebuah pameran industri halal, tetapi lebih dari itu. MIHAS menjadi platform bagi pelaku industri halal seluruh dunia,” ujar Harman, trade commisioner Kedutaan Besar Kerajaan Malaysia di Jakarta dalam siaran persnya.

Transaksi yang dibukukan mencakup industri makanan dan minuman (F&B) farmasi, manufaktur, konstruksi, industri pengememasan , hingga layanan finansial. Produk utama yang diminati adalah minyak kelapa sawit dan turunannya, disusul dengan makanan jadi. Industri layanan (service industries) seperti pariwisata atau layanan finansial mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya, yaitu sebesar 290%. Industri layanan membawa kontribusi sebesar 16% dari seluruh transaksi.

Negara-negara yang berpartisipasi selalu bertambah setiap tahun. Partisipan utama antara lain Indonesia, Filipina, Korea Selatan, Jepang, China, Belgia, Iran, Prancis, India, Palestina, dan lain-lain. Tahun ini MIHAS mendapat kehormatan dengan turut berpartisipasinya Bosnia, Swiss, Kuwait, dan Portugis untuk pertama kalinya.

Potensi industri halal di masa yang akan datang
Industri halal tampak menjanjikan. Menurut laporan dari Thomson Reuter yang bertajuk “ State of the Global Islamic Economy Report 2018/19”, ekonomi islam secara global bernilai 4.5 triliun Dollar AS, dan diperkirakan tumbuh hingga 6,8 triliun Dollar AS pada 2023.

Populasi umat muslim di dunia juga terus bertambah, menurut data Global Islamic Indicator (GIE) populasi muslim akan bertambah dari 1.8 milyar pada 2017 menjadi 3 milyar pada 2060. Permintaan produk halal juga tidak hanya datang dari kalangan muslim, tetapi juga dari kalangan non-muslim. Produk-produk halal dianggap memiliki kualitas yang sangat baik dan sangat memperhatikan kebersihan.

Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa negara-negara muslim dapat memanfaatkan peluang ekonomi tersebut. “Potensi industri halal sangat besar. Kami ingin negara-negara muslim semakin memperkuat kerja sama, sebab permintaan pasar terus bertambah dan kita harus dapat memenuhi kebutuhan produk halal.”tutup Harman.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pameran

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup