Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kuartal I/2019, Produksi Kayu Bulat Turun 1,5 Juta Meter Kubik

Produksi kayu bulat pada Januari—Maret 2018 mencapai 11,75 juta m3, sedangkan produksi log pada 3 bulan pertama tahun ini sekitar 10,15 juta m3.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh - Bisnis.com 15 April 2019  |  08:55 WIB
Pekerja menata potongan kayu Sengon atau Albasia di depo penampungan kayu Desa Kalibanger, Gemawang, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (4/1/2019). - ANTARA/Anis Efizudin
Pekerja menata potongan kayu Sengon atau Albasia di depo penampungan kayu Desa Kalibanger, Gemawang, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (4/1/2019). - ANTARA/Anis Efizudin

Bisnis.com, JAKARTA—Produksi kayu bulat atau log tercatat turun sekitar 13,6% atau 1,5 juta m3 pada kuartal I/2019 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Purwadi Soeprihanto mengatakan bahwa produksi kayu bulat pada Januari—Maret 2018 mencapai 11,75 juta m3, sedangkan produksi log pada 3 bulan pertama tahun ini sekitar 10,15 juta m3.

“Penurunan itu melanjutkan koreksi realisasi Januari—Februari 2019 dibandingkan dengan [realisasi pada] Januari—Februari 2018 yang mencapai 21%,” kata Purwadi kepada Bisnis.com, Jumat (12/4/2019).

Penurunan produksi kayu bulat tersebut beriringan dengan berkurangnya permintaan pasokan bahan baku ke industri kayu olahan dunia. Meskipun demikian, Purwadi optimistis kinerja produksi kuartal II/2019 bisa menyamai kinerja pada kuartal II/2018. “Terutama didongkrak oleh kontribusi dari produksi kayu Hutan Tanaman Industri [HTI],” lanjutnya.

Purwadi memproyeksikan produksi kayu bulat HTI tahun ini akan naik 10% dibandingkan dengan realisasi produksi tahun lalu yang mencapai 40,13 juta m3.

Hal tersebut menurutnya didukung oleh tren permintaan pasar kayu olahan untuk produk pulp dan kertas dunia yang semakin meningkat.

Sementara itu, untuk produksi kayu bulat dari hutan alam, Purwadi berharap kinerjanya sepanjang tahun ini akan sama seperti realisasi tahun 2018. “Kalaupun turun diharapkan tidak lebih dari 5% penurunannya,” ujarnya.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), produksi kayu bulat pada kuartal II/2018 mencapai 21,87 juta m3 dengan kontribusi hutan tanaman (HT) mencapai 86,35% atau 18,88 juta m3 dan kontribusi hutan alam (HA) sebesar 13,65% atau 2,89 juta m3.

Sementara itu, Direktur Usaha Hutan Produksi Ditjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) KLHK Istanto mengaku optimistis kinerja produksi kayu bulat pada kuartal II/2019 volumenya akan sama dengan total produksi kayu bulat pada periode yang sama tahun lalu.

Menurutnya, hal tersebut didukung dengan harga kayu bulat atau log yang trennya menunjukkan kenaikan. “Karena harga itu biasanya patokannya sudah internasional,” kata Istanto kepada Bisnis.com, Jumat (12/4).

APHI mencatat rerata harga kayu log dari hutan alam (HA) saat ini berkisar Rp1,4 juta per m3—Rp1,5 juta per m3. Kemudian,  rerata harga kayu dari hutan tanaman industri (HTI) seperti Akasia, Eukaliptus, dan Jabon saat ini sekitar Rp600.000 per m3—Rp700.000 per m3.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) KLHK Hilman Nugraha menyampaikan target produksi kayu bulat dari hutan alam (HA) pada tahun ini mencapai 5,6 juta m3, sedangkan dari hutan tanaman (HT) sekitar 40 juta m3.

Hilman mengatakan realisasi produksi tersebut nantinya bergantung pada kondisi cuaca Indonesia sepanjang tahun ini.

“Begini, [volume] tebangan itu tergantung dari musim, jika musim hujan atau kemarau terus, ya ngga bisa [terus bagus produksinya],” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Jumat (12/4).

Menurut data KLHK, realisasi produksi kayu bulat pada 2018 mencapai 48,73 juta m3 dengan kontribusi hutan tanaman (HT) mencapai 82,36% atau 40,13  juta m3 dan kontribusi hutan alam (HA) sebesar 17,64% atau 8,59 juta m3.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kayu
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top