Neraca Dagang Positif, Sri Mulyani Pantau Pelemahan Impor

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah perlu tetap waspada meskipun neraca perdagangan Februari 2019 tercatat surplus.
N. Nuriman Jayabuana | 15 Maret 2019 12:14 WIB
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, SERANG -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah perlu tetap waspada meskipun neraca perdagangan Februari 2019 tercatat surplus. 

"Kita tetap terus waspada, kenapa? Karena neraca dagangnya ini positif karena dua-duanya negatif, yaitu ekspor negatif dan impornya turun lebih dalam lagi," ujarnya di Serang, Banten, Jumat (15/3/2019).

Sri Mulyani mengungkapkan pemerintah akan mencermati lebih mendalam pelemahan kinerja perdagangan yang terjadi. Dia menerangkan perlu dilihat kembali apakah kondisi ini biasa terjadi secara musiman pada Februari-Maret atau memang sesuatu yang sifatnya fundamental karena dampak pelemahan ekonomi dunia.

Pemerintah juga akan memantau dampak penurunan impor yang cukup dalam terhadap kenaikan serapan bahan baku dan barang modal domestik. Pelemahan impor yang tidak disertai dengan kenaikan serapan bahan baku domestik substitusi mengindikasikan sektor produksi yang melemah.

"Paling tidak, surplus ini memberikan sinyal positif kepada kita semua. Namun, masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan," lanjut Sri Mulyani.

Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan neraca dagang Februari 2019 membukukan surplus senilai US$330 juta. Surplus neraca dagang terjadi lantaran impor menurun lebih tajam ketimbang ekspor yang juga terkoreksi. 

Nilai ekspor Februari 2019 senilai US$ 12,53 miliar, atau turun 10,03% dibandingkan Januari 2019. Sementara itu, nilai impor Februari 2019  mencapai US$ 12,2 miliar, atau turun lebih tajam sebesar 18,61%.

Tag : Neraca Perdagangan, sri mulyani
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top