Industri Teh Perlu Mendapat Dukungan Pemerintah

Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) akan mengusulkan beberapa hal kepada Presiden untuk meningkatkan industri teh nasional. 
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 14 Maret 2019  |  23:03 WIB
Industri Teh Perlu Mendapat Dukungan Pemerintah
Kebun teh. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) akan mengusulkan beberapa hal kepada Presiden untuk meningkatkan industri teh nasional. 

Komite Tetap Bidang Perkebunan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rudyan Kopot mengatakan Kadin akan bertemu dengan Presiden pada akhir minggu ini. Dalam kesempatan tersebut, Kadin akan mengusulkan agar industri teh nasional mendapatkan perhatian supaya skala produksi dan pasar bisa dilakukan.

Salah satu usulan yang akan dilampirkan kepada Presiden dari Kadin adalah meningkatkan kandungan teh dalam minuman kemasan bercitarasa teh.

"Penggunaan teh dalam botol kemasan masih kecil sekali. Jadi kalau pemerintah bisa bikin beberapa aturan [akan bagus] karena teh itu punya manfaat untuk mengurangi kemungkinan kena cancer. Jadi harus dimanfaatkan karena ini minuman rakyat dan tidak mahal," katanya belum lama ini kepada Bisnis (14/3).

Dengan begitu, lanjut Rudyan, masyarakat bisa menikmati teh berkhasiat. Bukan hanya seolah minum teh padahal tidak sama sekali. Selain itu, apabila kebijakan baru tersebut disetujui otomatis penyerapan teh dalam negeri akan meningkat.

Kalau bisa semua diserap jadi tidak perlu mikirin ekspor. Kalau saja bisa naik 500gr per kapita, produkso dlm negeri 140rb habis. Maka itu kadin usulkan ekspansi itu juga perluasan, 

"Kita kira-kira sekarang konsumsinya 350 gr/kapita jika saja naik 500 gr/kapita, produksi nasional 135.000 ton habis. Padahal ekspor tidak bisa tutup. Maka itu replanting atau ekspansi ke luar Jawa juga jadi mungkin dilakukan," katanya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komite Ketahanan Pangan Kamar Dagang dan Industeri (KADIN), Suharyo Husen mengatakan harga jual teh dalam negeri masih dibawah pasaran global yakni US$2,2/kg. Sementara konsumsi dalam negeri pun juga rendah sekitar 350gr/kapita/tahun. Suharyo menilai untuk memperbaiki kondisi harga, maka konsumsi dalam negeri harus ditingkatkan.

"Jadi kalau itu 350gr/kapita/tahun yang dikonsumsi dalam negeri itu sebanyak 70.000 ton atau 50% dari total produksi nasional sedangkan sisanya untuk diekspor. Target kita untuk perbaiki kondisi adalah dengan menaikan konsumsi dalam negeri," tegasnya.

Sementara itu, Dudi Gunadi, Direktur Perlindungan Perkebunan Kementerian Pertanian mengatakan bahwa pemerintah memiliki grand design untuk memperbaiki industri teh sampai 2045.

Kebijakan yang pemerintah susun adalah Perbaikan subsistem On Farm dan Off Farm. Menerapkan PPN 0% untuk produk daun segar teh hitam dan teh hijau agar industri menggeliat.

Selain itu, menurunkan laju impor teh dan memproteksi produksi dalam negeri. Kementan juga akan menurunkan tarif impor untuk input pendukung industri hilir. Lalu, penerapan sistem lelang teh, T
tax holiday dan kepastian hukum bagi para pelaku usaha.

Adapun target jangka menengah sampai 2024 adalah peningkatan produksi, produktivitas, dan pendapatan petani. Dudi menjelaskan bahwa target pemerintah adalah meningkatkan produksi sampai 231.771 ton/tahun meningkat dari kondisi sekarang 140.000 ton. Ekspor pun ditargetkan bisa menyentuh angka 106.684 ton dengan kebutuhan 175.000 ton.

"Di undang-undang perkebunan, kami diperkenankan memobilisasi dana dari komoditas ke komoditas. Terutama dari dana pajak teh yang bisa dimobilisasi. Kami sedang merancang agar dana itu bisa dimobilisasi," pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
teh

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top