PTBA & TPIA Ikut Garap Penghiliran Batu Bara di Tanjung Enim

PT Bukit Asam Tbk., PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk., sedang mengembangkan industri hilir batu bara di mulut tambang Tanjung Enim.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 03 Maret 2019  |  20:49 WIB
PTBA & TPIA Ikut Garap Penghiliran Batu Bara di Tanjung Enim
Tambang batu bara Tanjung Enim, Sumatra Selatan - Reuters/Dwi Oblo

Bisnis.com, JAKARTA--Pabrik gasifikasi batu bara di Tanjung Enim, Sumatra Selatan diperkirakan mulai beroperasi pada November 2022. Penghiliran batu bara ini penting untuk memperkuat struktur dan optimalisasi perolehan nilai tambah industri.

Dalam keterangan resmi Kementerian Perindustrian yang diterima Minggu (3/3/2019), disebutkan PT Bukit Asam Tbk., PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk., sedang mengembangkan industri hilir batu bara di mulut tambang Tanjung Enim.

Pada Desember 2017, keempat perusahaan tersebut telah menandatangani perjanjian kerja sama untuk mengolah batu bara kalori rendah dengan teknologi gasifikasi sehingga menghasilkan produk akhir yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan teknologi gasifikasi memungkinkan konversi batu bara kalori rendah menjadi synthetic gas (syngas) yang merupakan bahan baku untuk diproses lebih lanjut menjadi dimethyl ether (DME) sebagai bahan bakar dan substitusi impor LPG, urea sebagai pupuk, serta polypropylene sebagai bahan baku plastik.

"Pembangunan pabrik pengolahan gasifikasi batubara yang nilai investasinya diperkirakan mencapai US$1,2 miliar dan menciptakan lapangan kerja sebanyak 1.400 orang ini akan mulai beroperasi pada November tahun 2022," ujarnya.

Dari sisi produksi, pabrik ini dapat memenuhi kebutuhan urea sebesar 500.000 ton per tahun, DME sebesar 400.000 ton per tahun, dan polipropilena sebesar 450.000 ton.

Dengan target pemenuhan pasar tersebut, diproyeksikan kebutuhan batu bara sebagai bahan baku sebesar 7 juta ton hingga 9 juta ton per tahun, termasuk untuk mendukung kebutuhan batubara bagi pembangkit listrik. Hilirisasi yang akan dilakukan ini diperkuat dengan total sumber daya batu bara sebesar 8,3 miliar ton dan total cadangan batu bara sebesar 3,3 miliar ton.

Menurut Airlangga, industri hilirisasi batu bara ini sangat penting untuk memperkuat struktur industri dan optimalisasi perolehan nilai tambah dalam rangka peningkatan daya saing sektor manufaktur, termasuk dalam penguatan kemandirian industri petrokimia di Indonesia.

“Adanya keterkaitan yang luas dengan sektor industri lain tak pelak menjadikan sektor industri petrokimia sebagai tolok ukur tingkat kemajuan suatu negara, selain industri baja. Tak heran jika keberadaan industri petrokimia sering menjadi backbone dari sebagian besar sektor industri di dunia,” jelasnya.

Airlangga juga menghitung nilai tambah yang akan dihasilkan di Tanjung Enim, apabila kebutuhan batubara dalam proyek ini mencapai 9 juta ton per tahun dengan harga komoditasnya US$30 per ton, maka baru menghasilkan senilai US$270 juta tanpa pengolahan. Namun, apabila ada satu pabrik polypropylene dengan kapasitas 450.000 ton per tahun, bisa menghasilkan US$4,5 miliar.

"Apalagi, akan ada pabrik pupuk dan DME itu minimal mencapai US$7 miliar devisa yang bisa kita hemat. Jadi, bukan hanya menggali, tetapi ada nilai tambah,” tegasnya.

Kementerian Perindustrian pun juga terus mendorong tumbuhnya industri hilir batu bara agar dapat menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dan substistusi impor. Langkah strategis ini dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan baku pembuatan pupuk, bahan bakar, dan plastik yang akan digunakan di dalam negeri hingga mengisi permintaan pasar ekspor.

“Undang-Undang No 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian mengamanatkan, pengembangan industri pengolahan difokuskan pada penguatan rantai pasok untuk menjamin ketersediaan bahan baku dan energi yang berkesinambungan dan terjangkau,” katanya.

Adapun, pada kegiatan Pencanangan Industri Hilirisasi Batubara di Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019), turut hadir pula Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri ESDM Ignasius Jonan.

Dalam rangkaian acara, Airlangga juga berkesempatan menandatangani prasasti pencanangan Bukit Asam Coal Based Special Economic Zone (BACBSEZ).

“Sektor industri inilah yang sekarang diperlukan sesuai dengan arahan Presiden, karena merupakan substitusi impor dan dapat memperkuat cadangan devisa kita. Maka itu, klaster Tanjung Enim dengan luas 300 hektare ini akan menjadi kawasan industri baru yang terintegrasi,” tutur Airlangga.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, kemenperin

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top