Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bisnis Pembangkit Listrik Butuh Kredit Bunga Rendah

Institute For Essential Services Reform (IESR) menilai bisnis pembangkit sebagai bisnis yang menguntungkan, akan tetapi dengan rezim tarif saat ini, pengembang didesak untuk melakukan investasi yang lebih efisien dan kredit dengan bunga yang lebih rendah untuk mendapatkan tingkat pengembalian investasi yang memadai.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 24 Februari 2019  |  17:24 WIB
Pekerja menyelesaikan pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) saat pelaksanaan kegiatan strategis daerah optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (15/1/2019). - ANTARA/Risky Andrianto
Pekerja menyelesaikan pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) saat pelaksanaan kegiatan strategis daerah optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (15/1/2019). - ANTARA/Risky Andrianto

Bisnis.com, JAKARTA—Institute For Essential Services Reform (IESR) menilai bisnis pembangkit sebagai bisnis yang menguntungkan, akan tetapi dengan rezim tarif saat ini, pengembang didesak untuk melakukan investasi yang lebih efisien dan kredit dengan bunga yang lebih rendah untuk mendapatkan tingkat pengembalian investasi yang memadai.

Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa menuturkan perusahaan konglomerasi memiliki akses kredit perbankan yang lebih baik, dan bisa mendapatkan pinjaman dan bunga kompetitif karena  struktur permodalan yang dimiliki cukup besar dan bisa menjaminkan asetnya dengan lebih mudah.

“Investasi pembangkit memang besar, jadi semakin besar kapasitas pembangkitnya, biaya modal bertambah besar,” katanya kepada Bisnis, Minggu (24/2/2019).

Menurut Fabby, bisnis pembangkit menguntungkan lantaran kontrak Perjanjian Jual Belli Listrik atau PPA diteken secara jangka panjang selama 20-25 tahun. Dengan demikian, kata dia, perhitungan IRR biasanya sudah dijamin sesuai dengan tarif yang disepakati.

Menurutnya untuk pengembang listrik swasta IRR yang menguntungkan di kisaran 12%-15%, bergantung jenis pembangkit dan tingkat bunga pinjaman yang didapat.

"Artinya kalau kontraknya 25 tahun, setelah 7-8 tahun pengembang bisa menikmati keuntungan. Apalagi biaya operasi dan perawatan pembangkit untuk energi terbarukan relatif kecil,”imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

listrik pembangkit listrik
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top