AS dan China Persiapkan Nota Kesepakatan Dagang 

Pemerintah AS-China tengah menyiapkan nota kesepakatan dagang guna mewujudkan apa yang disebut dengan perdagangan yang adil dan saling menguntungkan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 21 Februari 2019  |  20:21 WIB
AS dan China Persiapkan Nota Kesepakatan Dagang 
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Negosiator AS dan China sedang mengerjakan beberapa nota kesepahaman yang akan membentuk dasar dari kesepakatan akhir kerja sama dagang antar kedua negara.

Seorang narasumber yang memiliki informasi tentang progres perundingan dagang ini mengatakan, nota kesepahaman akan mencakup sejumlah bidang termasuk pertanian, hambatan non-tarif, jasa, transfer teknologi dan kekayaan intelektual.

Mekanisme implementasi masih belum jelas, ujar narasumber yang tidak disebutkan namanya, tetapi jika kedua negara tidak mencapai kesepakatan maka perang dagang akan berakhir dengan kenaikan tarif lanjutan.

Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng mengatakan bahwa dia tidak memiliki informasi mengenai nota kesepahaman yang sedang dibahas dengan AS.

"Saya tidak dapat memberikan informasi apapun tentang hasil perundingan dagang hingga seluruh kegiatan berakhir," ujarnya seperti dikutip melalui Bloomberg pada Kamis (21/2). Sementara itu, juru bicara Departemen Perdagangan AS belum memberikan respon.

Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa pejabat pemerintah AS dan China tengah mendiskusikan 6 nota kesepahaman yang dapat menjadi solusi penyelesaian perang dagang.

Tidak ada ekspektasi tinggi yang diharapkan dari perundingan lanjutan pekan ini di Washington, namun narasumber yang sama mengatakan bahwa ada upaya yang disiapkan dan dapat berpotensi memperpanjang batas waktu kenaikan tarif produk China pada 1 Maret.

Wakil Perdana Menteri China Liu He, yang juga menjadi kepala negosiator, diperkirakan akan menemui Presiden AS Donald Trump pada Jumat (22/2).

Narasumber lain mengabarkan, dalam perundingan sebelumnya, AS meminta China untuk menjaga stabilitas yuan dalam upaya menetralkan devaluasi mata uang Beijing yang dapat melawan tarif AS.

Juru bicara pemerintah China di sisi lain mengkonfirmasi pada Rabu (20/2), bahwa mereka tidak menggunakan yuan sebagai alat untuk menghadapi sengketa perdagangan.

Trump cukup vokal terhadap defisit perdagangan bilateral dengan China, sementara itu AS juga memiliki banyak masalah dengan kebijakan ekonomi dan perdagangan China.

Pemerintah AS tengah mendorong apa yang mereka sebut sebagai perdagangan yang adil dan saling menguntungkan.

Beijing menanggapi permintaan Washington secara positif dengan meningkatkan pembelian produk pertanian dan energi untuk meminimalisir defisit.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, Donald Trump, perang dagang AS vs China

Editor : Rahayuningsih

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup